Belajar Merevisi

Pada titik ini, kamu telah mengatasi rintangan besar, kamu menemukan keberanian untuk menuangkan sesuatu di atas kertas. Kamu berani menulis. Sekarang, setelah kamu sampai sejauh ini, yang menghalangi pandanganmu lebih sedikit dan pandanganmu jadi meluas. Meninjau kembali (revisioning) adalah kata yang diciptakan penyair Adrienne Rich, yang berarti melihat tulisan dan hidupmu dengan cara baru untuk melihat kemungkinan yang ada di luar batas-batas waktu dan adat kebiasaan.

Dalam satu hal, revisi adalah suatu hubungan yang sengaja kamu bangun dengan tulisanmu, dan seperti halnya hubungan yang sehat, harus ada rasa percaya. Percaya bahwa tulisanmu punya nilai, bahwa ia mengungkapkan pengalaman, pemikiran, dan perasaanmu. Yakini juga bahwa kamu dapat menggunakan tulisan dan pengungkapan dirimu dengan lebih lengkap, lebih bertujuan, lebih tepat, dan lebih kuat.

Untuk merevisi, pertama-tama kamu harus memandang hasil karyamu secara menyeluruh, jangan mengambilnya sebagian-sebagian, kalimat demi kalimat, dan kata demi kata. (Itu tugas nanti!) Tanya dirimu, “Apakah ia mengatakan apa yang ingin aku katakan? Bagaimana mengatakannya secara lebih baik?” Sebuah cara yang lebih baik untuk “mendengar” tulisanmu adalah dengan membacanya keras-keras. Bahkan lebih baik lagi, buatlah rekaman saat kamu membaca hasil karyamu dengan keras, kemudian putar kembali rekaman itu. Simak kata-kata, kecepatan, dan iramanya.

Sewaktu kamu membaca (mendengarkan) cerita, puisi, esai, atau sandiwaramu, ingatlah satu hal penting: Kamu bukanlah tulisanmu. Mungkin, karakternya mirip atau berpikir seperti kamu. Bahkan mungkin, mereka merasakan apa yang kamu rasakan. Waktu dan tempatnya mungkin mirip rumahmu. Liku-liku alur cerita tertentu mungkin berdasarkan hal-hal yang terjadi dalam kehidupanmu sendiri. Tetapi, kamu bukanlah tulisanmu.

Mengapa penting untuk mencamkan ini? Karena jika kamu meyakini bahwa kamu adalah tulisanmu, merevisi apa pun yang kamu tuils akan menyakitkan. Mengubah satu baris bagaikan menggunting kertasnya. Menggunting satu bagian bagaikan mengucurkan darah sendiri. Mematikan sepenggal cerita bagai mematahkan satu kaki. Banyak hal yang lebih baik untuk dikerjakan ketimbang merasa sakit. Meyakini kamu adalah tulisanmu juga akan menghalangimu melakukan yang terbaik dalam proses revisi. Revisi adalah segala sesuatu tentang berani–berani membiarkan kreativitasmu bebas berkeliaran lagi, menghentikan apa yang tidak memuaskan jiwa dari tulisan itu.

Selain itu, jika meyakini kamu adalah tulisanmu, mungkin kamu menganggap setiap kritik terhadap hasil karyamu sebagai kritik terhadapmu. Misalnya, kamu menyerahkan tulisanmu yang sudah selesai kepada seorang teman, dan setelah membacanya, ia mengatakan, “Saya suka awalnya, tapi kemudian saya menjadi bosan.” Apakah ini berarti temanmu berpikir kamu membosankan? Tentu saja tidak! Jika tidak menjaga jarak dengan tulisanmu, kamu akan sulit mendengar apa pun kecuali reaksi sakit hati sendiri terhadap komentar orang lain

Kebalikannya juga benar. “Saya cinta menulis” atau “Ini tulisan terbaik yang pernah saya baca”, mungkin pujian terhebat yang didengar penulsi mana pun. Tidak ada salahnya merasa diri hebat jika menerima pujian semacam ini, tetapi jangan beranggapan bahwa ini merupakan satu-satunya cara kamu membuktikan dirimu berharga. Jika kamu menulis untuk mendapatkan cinta dan perhatian, kamu mengambil risiko memandang hasil karya senimu hanya sebagai cara membuktikan nilaimu, dan ini akan mencegah tulisanmu berkembang ke bentuk terbaiknya.

Selama bertahun-tahun (meskipun saya akan menyangkalnya jika kamu menanyakan), saya menulis untuk dicintai. Saya pikir, jika saya membuat sesuatu yang indah di kertas, saya akan tampak berharga bagi orang yang sungguh-sungguh mencintai saya. Saya memperlihatkan puisi-puisi saya kepada orang-orang yang saya sukai, berharap mereka membaca dan mengaguminya sehingga mereka akan tetap menyukai saya. Tahukah kamu? Semua itu tidak ada gunanya.

Orang-orang yang menyukai saya memang menyukai saya karena saya, bukan karena puisi saya. Jika pun saya menulis sampah, mereka akan tetap menyayangi saya. (Syukurlah!) Saya menjadi sadar bahwa saya lebih dari sekadar tulisan saya. Demikian pula kamu. Menulis adalah sesuatu yang berwujud dua dimensi di halaman kertasmu; terasa hidup dalam beberapa hal, tapi tidak lantas hidup menjadi dirimu. Kamu hidup di luar halaman kertas itu. Ini membawa kita kembali ke awal: Kamu berani menulis. Sekarang, kamu jadi berani untuk menulis kembali.[]

Sumber: disalin dari buku “Daripada Bete Nulis Aja!” karangan Caryn Mirriam-Goldberg, Ph.D., terbitan Kaifa for teens, hal. 143-145.

Tanggapan :

error: Content is protected !!
mautic is open source marketing automation