Perkembangan Paradigma Kepemimpinan: Gaya, Tipologi, Model dan Teori Kepemimpinan

Perkembangan Paradigma Kepemimpinan: Gaya, Tipologi, Model dan Teori Kepemimpinan

Jenis, gaya, dan ciri yang menandai perkembangan kepemimpinan masa lalu dapat dilihat dari pengetahuan atau pun teori kepemimpinan yang berkembang dalam kurun waktu tersebut.

Abad 20 baru saja berlalu. Kita dapat mencatat sejarah kemanusiaan yang penuh dinamika perubahan di abad itu; termasuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tak terkecuali perkembangan pengetahuan tentang paradigma kepemimpinan yang dapat meliputi gaya kepemimpinan, tipologi kepemimpinan, model-model kepemimpinan, dan teori-teori kepemimpinan.

Sekalipun secara konseptual pada ketiganya terdapat perbedaan, namun sebagai telaan mengenai substansi yang sama akan terdapat korelasi bahkan interdependensi antar ketiganya.

Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan, pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Pengertian gaya kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Davis dan Newstrom (1995). Keduanya menyatakan bahwa pola tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan tersebut dikenal sebagai gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin, pada dasarnya dapat diterangkan melalui tiga aliran teori berikut ini.

Teori Genetis (Keturunan).
Inti dari teori menyatakan bahwa “leader are born and nor made” (pemimpin itu dilahirkan (bakat) bukannya dibuat). Para penganut aliran teori ini mengetengahkan pendapatnya bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin, sesekali kelak ia akan timbul sebagai pemimpin. Berbicara mengenai takdir, secara filosofis pandangan ini tergolong pada pandangan fasilitas atau determinitis.

Teori Sosial.
Jika teori pertama di atas adalah teori yang ekstrim pada satu sisi, maka teori inipun merupakan ekstrim pada sisi lainnya. Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa “leader are made and not born” (pemimpin itu dibuat atau dididik bukannya kodrati). Jadi teori ini merupakan kebalikan inti teori genetika. Parapenganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.

Teori Ekologis.
Kedua teori yang ekstrim di atas tidak seluruhnya mengandung kebenaran, maka sebagai reaksi terhadap kedua teori tersebut timbullah aliran teori ketiga. Teori yang disebut teori ekologis ini pada intinya berarti bahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki bakat kepemimpinan. Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut. Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling mendekati kebenaran. Namun demikian, penelitian yang jauh lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa saja faktor yang menyebabkan timbulnya sosok pemimpin yang baik.

Selain pendapat-pendapat yang menyatakan tentang timbulnya gaya kepemimpinan tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut diwujudkan. Bertolak dari pemikiran tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) mengajukan proposisi bahwa gaya kepemimpinan (k) merupakan suatu fungsi dari pimpinan (p), bawahan (b) dan situasi tertentu (s)., yang dapat dinotasikan sebagai : k = f (p, b, s).

Menurut Hersey dan Blanchard, pimpinan (p) adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi. Organisasi akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan konseptual. Sedangkan bawahan adalah seorang atau sekelompok orang yang merupakan anggota dari suatu perkumpulan atau pengikut yang setiap saat siap melaksanakan perintah atau tugas yang telah disepakati bersama guna mencapai tujuan. Dalam suatu organisasi, bawahan mempunyai peranan yang sangat strategis, karena sukses tidaknya seseorang pimpinan bergantung kepada para pengikutnya ini. Oleh sebab itu, seorang pemimpinan dituntut untuk memilih bawahan dengan secermat mungkin.

Adapun situasi (s) menurut hersey dan blanchard adalah suatu keadaan yang kondusif, di mana seorang pimpinan berusaha pada saat-saat tertentu mempengaruhi perilaku orang lain agar dapat mengikuti kehendaknya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam satu situasi misalnya, tindakan pimpinan pada beberapa tahun yang lalu tentunya tidak sama dengan yang dilakukan pada saat sekarang, karena memang situasinya telah berlainan. Dengan demikian, ketiga unsur yang mempengaruhi gaya kepemimpinan tersebut, yaitu pimpinan, bawahan dan situasi merupakan unsur yang saling terkait satu dengan lainnya, dan akan menentukan tingkat keberhasilan kepemimpinan.

Tipologi Kepemimpinan
Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut (siagian,1997).

Tipe Otokratis.
Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi; mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi; menganggap bawahan sebagai alat semata-mata; tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat; terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya; dalam tindakan pengge-rakkannya sering memperguna-kan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.

Tipe Militeristis.
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan; dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya; senang pada formalitas yang berlebih-lebihan; menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan; sukar menerima kritikan dari bawahannya; menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

Tipe Paternalistis.
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa; bersikap terlalu melindungi(overly protective); jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan; jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif; jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya; dan sering bersikap maha tahu.

Tipe Karismatik.
Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, iskandar zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, john f kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi presiden amerika serikat. Mengenai profil, gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”.

Tipe Demokratis.
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia; selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya; senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya; selalu berusaha mengutamakan kerjasama danteamwork dalam usaha mencapai tujuan; ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain; selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya; dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. Namun, karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis.

Model Kepemimpinan.
Model kepemimpinan didasarkan pada pendekatan yang mengacu kepada hakikat kepemimpinan yang berlandaskan pada perilaku dan keterampilan seseorang yang berbaur kemudian membentuk gaya kepemimpinan yang berbeda. Beberapa model yang menganut pendekatan ini, di antaranya adalah sebagai berikut.
Model Kepemimpinan Kontinum (Otokratis-Demokratis).

Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) berpendapat bahwa pemimpin mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa cara, yaitu dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan perilaku otokratis sampai dengan cara yang menonjolkan sisi ekstrim lainnya yang disebut dengan perilaku demokratis.

Perilaku otokratis, pada umumnya dinilai bersifat negatif, di mana sumber kuasa atau wewenang berasal dari adanya pengaruh pimpinan. Jadi otoritas berada di tangan pemimpin, karena pemusatan kekuatan dan pengambilan keputusan ada pada dirinya serta memegang tanggung jawab penuh, sedangkan bawahannya dipengaruhi melalui ancaman dan hukuman. Selain bersifat negatif, gaya kepemimpinan ini mempunyai manfaat antara lain, pengambilan keputusan cepat, dapat memberikan kepuasan pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan keteraturan bagi bawahan. Selain itu, orientasi utama dari perilaku otokratis ini adalah pada tugas.

Perilaku Demokratis; perilaku kepemimpinan ini memperoleh sumber kuasa atau wewenang yang berawal dari bawahan. Hal ini terjadi jika bawahan dimotivasi dengan tepat dan pimpinan dalam melaksanakan kepemimpinannya berusaha mengutamakan kerjasama dan team work untuk mencapai tujuan, di mana si pemimpin senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya. Kebijakan di sini terbuka bagi diskusi dan keputusan kelompok.

Namun, kenyataannya perilaku kepemimpinan ini tidak mengacu pada dua model perilaku kepemimpinan yang ekstrim di atas, melainkan memiliki kecenderungan yang terdapat di antara dua sisi ekstrim tersebut. Tannenbaun dan schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) mengelompokkannya menjadi tujuh kecenderungan perilaku kepemimpinan. Ketujuh perilaku inipun tidak mutlak melainkan akan memiliki kecenderungan perilaku kepemimpinan mengikuti suatu garis kontinum dari sisi otokratis yang berorientasi pada tugas sampai dengan sisi demokratis yang berorientasi pada hubungan.

Model Kepemimpinan Ohio. Dalam penelitiannya, universitas ohio melahirkan teori dua faktor tentang gaya kepemimpinan yaitu struktur inisiasi dankonsiderasi (hersey dan blanchard, 1992). Struktur inisiasi mengacu kepada perilaku pemimpin dalam menggambarkan hubungan antara dirinya dengan anggota kelompok kerja dalam upaya membentuk pola organisasi, saluran komunikasi, dan metode atau prosedur yang ditetapkan dengan baik.

Adapun konsiderasi mengacu kepada perilaku yang menunjukkan persahabatan, kepercayaan timbal-balik, rasa hormat dan kehangatan dalam hubungan antara pemimpin dengan anggota stafnya (bawahan). Adapun contoh dari faktor konsiderasi misalnya pemimpin menyediakan waktu untuk menyimak anggota kelompok, pemimpin mau mengadakan perubahan, dan pemimpin bersikap bersahabat dan dapat didekati. Sedangkan contoh untuk faktor struktur inisiasi misalnya pemimpin menugaskan tugas tertentu kepada anggota kelompok, pemimpin meminta anggota kelompok mematuhi tata tertib dan peraturan standar, dan pemimpin memberitahu anggota kelompok tentang hal-hal yang diharapkan dari mereka.

Kedua faktor dalam model kepemimpinan Ohio tersebut dalam implementasinya mengacu pada empat kuadran, yaitu :

(a) model kepemimpinan yang rendah konsiderasi maupun struktur inisiasinya, (b) model kepemimpinan yang tinggi konsiderasi maupun struktur inisiasinya, (c) model kepemimpinan yang tinggi konsiderasinya tetapi rendah struktur inisiasinya, dan (d) model kepemimpinan yang rendah konsiderasinya tetapi tinggi struktur inisiasinya.

Model Kepemimpinan Likert (likert’s Management System).
Likert dalam Stoner (1978) menyatakan bahwa dalam model kepemimpinan dapat dikelompokkan dalam empat sistem, yaitu sistem otoriter, otoriter yang bijaksana, konsultatif, dan partisipatif. Penjelasan dari keempat sistem tersebut adalah seperti yang disajikan pada bagian berikut ini.

Sistem Otoriter (Sangat Otokratis).
Dalam sistem ini, pimpinan menentukan semua keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan, dan memerintahkan semua bawahan untuk menjalankannya. Untuk itu, pemimpin juga menentukan standar pekerjaan yang harus dijalankan oleh bawahan. Dalam menjalankan pekerjaannya, pimpinan cenderung menerapkan ancaman dan hukuman. Oleh karena itu, hubungan antara pimpinan dan bawahan dalam sistem adalah saling curiga satu dengan lainnya.

Sistem Otoriter Bijaksana (Otokratis Paternalistik).
Perbedaan dengan sistem sebelumnya adalah terletak kepada adanya fleksibilitas pimpinan dalam menetapkan standar yang ditandai dengan meminta pendapat kepada bawahan. Selain itu, pimpinan dalam sistem ini juga sering memberikan pujian dan bahkan hadiah ketika bawahan berhasil bekerja dengan baik. Namun demikian, pada sistem inipun, sikap pemimpin yang selalu memerintah tetap dominan.

Sistem Konsultatif.
Kondisi lingkungan kerja pada sistem ini dicirikan adanya pola komunikasi dua arah antara pemimpin dan bawahan. Pemimpin dalam menerapkan kepemimpinannya cenderung lebih bersifat menudukung. Selain itu sistem kepemimpinan ini juga tergambar pada pola penetapan target atau sasaran organisasi yang cenderung bersifat konsultatif dan memungkinkan diberikannya wewenang pada bawahan pada tingkatan tertentu.

Sistem Partisipatif.
Pada sistem ini, pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang lebih menekankan pada kerja kelompok sampai di tingkat bawah. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemimpin biasanya menunjukkan keterbukaan dan memberikan kepercayaan yang tinggi pada bawahan. Sehingga dalam proses pengambilan keputusan dan penentuan target pemimpin selalu melibatkan bawahan. Dalam sistem inipun, pola komunikasi yang terjadi adalah pola dua arah dengan memberikan kebebasan kepada bawahan untuk mengungkapkan seluruh ide ataupun permasalahannya yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan.

Dengan demikian, model kepemimpinan yang disampaikan oleh Likert ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari model-model yang dikembangkan oleh Universitasi Ohio, yaitu dari sudut pandang struktur inisasi dan konsiderasi.

Model Kpemimpinan Managerial Grid.
Jika dalam model ohio, kepemimpinan ditinjau dari sisi struktur inisiasi dan konsideransinya, maka dalam modelmanajerial grid yang disampaikan oleh blake dan mouton dalam robbins (1996) memperkenalkan model kepemimpinan yang ditinjau dari perhatiannya terhadap tugas dan perhatian pada orang. Kedua sisi tinjauan model kepemimpinan ini kemudian diformulasikan dalam tingkatan-tingkatan, yaitu antara 0 sampai dengan 9.

Dalam pemikiran model Managerial Grid adalah seorang pemimpin selain harus lebih memikirkan mengenai tugas-tugas yang akan dicapainya juga dituntut untuk memiliki orientasi yang baik terhadap hubungan kerja dengan manusia sebagai bawahannya. Artinya bahwa seorang pemimpin tidak dapat hanya memikirkan pencapaian tugas saja tanpa memperhitungkan faktor hubungan dengan bawahannya, sehingga seorang pemimpin dalam mengambil suatu sikap terhadap tugas, kebijakan-kebijakan yang harus diambil, proses dan prosedur penyelesaian tugas, maka saat itu juga pemimpin harus memperhatikan pola hubungan dengan staf atau bawahannya secara baik. Menurut Blake dan Mouton ini, kepemimpinan dapat dikelompokkan menjadi empat kecenderungan yang ekstrim dan satu kecenderungan yang terletak di tengah-tengah keempat gaya ekstrim tersebut. Gaya kepemimpinan tersebut adalah :

Grid 1.1 disebut Impoverished Leadership (model kepemimpinan yang tandus), dalam kepemimpinan ini si pemimpin selalu menghidar dari segala bentuk tanggung jawab dan perhatian terhadap bawahannya.

Grid 9.9 disebut team leadership (model kepemimpinan tim), pimpinan menaruh perhatian besar terhadap hasil maupun hubungan kerja, sehingga mendorong bawahan untuk berfikir dan bekerja (bertugas) serta terciptanya hubungan yang serasi antara pimpinan dan bawahan.

Grid 1.9 disebut country club leadership (model kepemimpinan perkumpulan), pimpinan lebih mementingkan hubungan kerja atau kepentingan bawahan, sehingga hasil/tugas kurang diperhatikan.

Grid 9.1 disebut task leadership (model kepemimpinan tugas), kepemimpinan ini bersifat otoriter karena sangat mementingkan tugas/hasil dan bawahan dianggap tidak penting karena sewaktu-waktu dapat diganti.

Grid 5.5 disebut middle of the road (model kepemimpinan jalan tengah), di mana si pemimpin cukup memperhatikan dan mempertahankan serta menyeimbangkan antara moral bawahan dengan keharusan penyelesaian pekerjaan pada tingkat yang memuaskan, di mana hubungan antara pimpinan dan bawahan bersifat kebapakan.

Berdasakan uraian di atas, pada dasarnya model kepemimpinan manajerial grid ini relatif lebih rinci dalam menggambarkan kecenderungan kepemimpinan. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwasanya model ini merupakan pandangan yang berawal dari pemikiran yang relatif sama dengan model sebelumnya, yaitu seberapa otokratis dan demokratisnya kepemimpinan dari sudut pandang perhatiannya pada orang dan tugas.
Model kepemimpinan kontingensi.

Model kepemimpinan kontingensi dikembang-kan oleh fielder. Fielder dalam gibson, ivancevich dan donnelly (1995) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bagi sebuah organisasi bergantung pada situasi di mana pemimpin bekerja.

Menurut model kepemimpinan ini, terdapat tiga variabel utama yang cenderung menentukan apakah situasi menguntukang bagi pemimpin atau tidak. Ketiga variabel utama tersebut adalah : hubungan pribadi pemimpin dengan para anggota kelompok (hubungan pemimpin-anggota); kadar struktur tugas yang ditugaskan kepada kelompok untuk dilaksanakan (struktur tugas); dan kekuasaan dan kewenangan posisi yang dimiliki (kuasa posisi).

Berdasar ketiga variabel utama tersebut, fiedler menyimpulkan bahwa : para pemimpin yang berorientasi pada tugas cenderung berprestasi terbaik dalam situasi kelompok yang sangat menguntungkan maupun tidak menguntungkan sekalipun; para pemimpin yang berorientasi pada hubungan cenderung berprestasi terbaik dalam situasi-situasi yang cukup menguntungkan.

Dari kesimpulan model kepemimpinan tersebut, pendapat Fiedler cenderung kembali pada konsep kontinum perilaku pemimpin. Namun perbedaannya di sini adalah bahwa situasi yang cenderung menguntungkan dan yang cenderung tidak menguntungkan dipisahkan dalam dua kontinum yang berbeda.
Model kepemimpinan tiga dimensi.

Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Redin. Model tiga dimensi ini, pada dasarnya merupakan pengembangan dari model yang dikembangkan oleh universitas Ohio dan model managerial grid. Perbedaan utama dari dua model ini adalah adanya penambahan satu dimensi pada model tiga dimensi, yaitu dimensi efektivitas, sedangkan dua dimensi lainnya yaitu dimensi perilaku hubungan dan dimensi perilaku tugas tetap sama.

Intisari dari model ini terletak pada pemikiran bahwa kepemimpinan dengan kombinasi perilaku hubungan dan perilaku tugas dapat saja sama, namun hal tersebut tidak menjamin memiliki efektivitas yang sama pula. Hal ini terjadi karena perbedaan kondisi lingkungan yang terjadi dan dihadapi oleh sosok pemimpin dengan kombinasi perilaku hubungan dan tugas yang sama tersebut memiliki perbedaan.

Secara umum, dimensi efektivitas lingkungan terdiri dari dua bagian, yaitu dimensi lingkungan yang tidak efektif dan efektif. Masing-masing bagian dimensi lingkungan ini memiliki skala yang sama 1 sampai dengan 4, dimana untuk lingkungan tidak efektif skalanya bertanda negatif dan untuk lingkungan yang efektif skalanya bertanda positif.

Teori Kepemimpinan.
Salah satu prestasi yang cukup menonjol dari sosiologi kepemimpinan modern adalah perkembangan dari teori peran (role theory). Dikemukakan, setiap anggota suatu masyarakat menempati status posisi tertentu, demikian juga halnya dengan individu diharapkan memainkan peran tertentu. Dengan demikian kepemimpinan dapat dipandang sebagai suatu aspek dalam diferensiasi peran. Ini berarti bahwa kepemimpinan dapat dikonsepsikan sebagai suatu interaksi antara individu dengan anggota kelompoknya.

Menurut kaidah, para pemimpin atau manajer adalah manusia-manusia super lebih daripada yang lain, kuat, gigih, dan tahu segala sesuatu (White, Hudgson & Crainer, 1997). Para pemimpin juga merupakan manusia-manusia yang jumlahnya sedikit, namun perannya dalam organisasi merupakan penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai. Berangkat dari ide-ide pemikiran, visi para pemimpin ditentukan arah perjalanan suatu organisasi. Walaupun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dari tingkat kinerja organisasi, akan tetapi kenyataan membuktikan tanpa kehadiran pemimpin, suatu organisasi akan bersifat statis dan cenderung berjalan tanpa arah.

Dalam sejarah peradaban manusia, dikonstatir gerak hidup dan dinamika organisasi sedikit banyak tergantung pada sekelompok kecil manusia penyelenggara organisasi. Bahkan dapat dikatakan kemajuan umat manusia datangnya dari sejumlah kecil orang-orang istimewa yang tampil kedepan. Orang-orang ini adalah perintis, pelopor, ahli-ahli pikir, pencipta dan ahli organisasi. Sekelompok orang-orang istimewa inilah yang disebut pemimpin. Oleh karenanya kepemimpinan seorang merupakan kunci dari manajemen. Para pemimpin dalam menjalankan tugasnya tidak hanya bertanggungjawab kepada atasannya, pemilik, dan tercapainya tujuan organisasi, mereka juga bertanggungjawab terhadap masalah-masalah internal organisasi termasuk didalamnya tanggungjawab terhadap pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia. Secara eksternal, para pemimpin memiliki tanggungjawab sosial kemasyarakatan atau akuntabilitas publik.

Dari sisi teori kepemimpinan, pada dasarnya teori-teori kepemimpinan mencoba menerangkan dua hal yaitu, faktor-faktor yang terlibat dalam pemunculan kepemimpinan dan sifat dasar dari kepemimpinan. Penelitian tentang dua masalah ini lebih memuaskan daripada teorinya itu sendiri. Namun bagaimanapun teori-teori kepemimpinan cukup menarik, karena teori banyak membantu dalam mendefinisikan dan menentukan masalah-masalah penelitian.

Dari penelusuran literatur tentang kepemimpinan, teori kepemimpinn banyak dipengaruhi oleh penelitian Galton (1879) tentang latar belakang dari orang-orang terkemuka yang mencoba menerangkan kepemimpinan berdasarkan warisan. Beberapa penelitian lanjutan, mengemukakan individu-individu dalam setiap masyarakat memiliki tingkatan yang berbeda dalam inteligensi, energi, dan kekuatan moral serta mereka selalu dipimpin oleh individu yang benar-benar superior.

Perkembangan selanjutnya, beberapa ahli teori mengembangkan pandangan kemunculan pemimpin besar adalah hasil dari waktu, tempat dan situasi sesaat. Dua hipotesis yang dikembangkan tentang kepemimpinan, yaitu ; (1) kualitas pemimpin dan kepemimpinan yang tergantung kepada situasi kelompok, dan (2), kualitas individu dalam mengatasi situasi sesaat merupakan hasil kepemimpinan terdahulu yang berhasil dalam mengatasi situasi yang sama (hocking & boggardus, 1994).

Dua teori yaitu teori orang-orang terkemuka dan teori situasional, berusaha menerangkan kepemimpinan sebagai efek dari kekuatan tunggal. Efek interaktif antara faktor individu dengan faktor situasi tampaknya kurang mendapat perhatian. Untuk itu, penelitian tentang kepemimpinan harus juga termasuk ; (1) sifat-sifat efektif, intelektual dan tindakan individu, dan (2) kondisi khusus individu didalam pelaksanaannya.

Pendapat lain mengemukakan, untuk mengerti kepemimpinan perhatian harus diarahkan kepada (1) sifat dan motif pemimpin sebagai manusia biasa, (2) membayangkan bahwa terdapat sekelompok orang yang dia pimpin dan motifnya mengikuti dia, (3) penampilan peran harus dimainkan sebagai pemimpin, dan (4) kaitan kelembagaan melibatkan dia dan pengikutnya (hocking & boggardus, 1994).

Beberapa pendapat tersebut, apabila diperhatikan dapat dikategorikan sebagai teori kepemimpinan dengan sudut pandang “personal-situasional”. Hal ini disebabkan, pandangannya tidak hanya pada masalah situasi yang ada, tetapi juga dilihat interaksi antar individu maupun antar pimpinan dengan kelompoknya. Teori kepemimpinan yang dikembangkan mengikuti tiga teori diatas, adalah teori interaksi harapan.

Teori ini mengembangkan tentang peran kepemimpinan dengan menggunakan tiga variabel dasar yaitu; tindakan, interaksi, dan sentimen. Asumsinya, bahwa peningkatan frekuensi interaksi dan partisipasi sangat berkaitan dengan peningkatan sentimen atau perasaan senang dan kejelasan dari norma kelompok. Semakin tinggi kedudukan individu dalam kelompok, maka aktivitasnya semakin sesuai dengan norma kelompok, interaksinya semakin meluas, dan banyak anggota kelompok yang berhasil diajak berinteraksi.

Pada tahun 1957 Stogdill mengembangkan teori harapan-reinforcement untuk mencapai peran. Dikemukakan, interaksi antar anggota dalam pelaksanaan tugas akan lebih menguatkan harapan untuk tetap berinteraksi. Jadi, peran individu ditentukan oleh harapan bersama yang dikaitkan dengan penampilan dan interaksi yang dilakukan. Kemudian dikemukakan, inti kepemimpinan dapat dilihat dari usaha anggota untuk merubah motivasi anggota lain agar perilakunya ikut berubah. Motivasi dirubah dengan melalui perubahan harapan tentang hadiah dan hukuman. Perubahan tingkahlaku anggota kelompok yang terjadi, dimaksudkan untuk mendapatkan hadiah atas kinerjanya. Dengan demikian, nilai seorang pemimpin atau manajer tergantung dari kemampuannya menciptakan harapan akan pujian atau hadiah.

Atas dasar teori diatas, house pada tahun 1970 mengembangkan teori kepemimpinan yang motivasional. Fungsi motivasi menurut teori ini untuk meningkatkan asosiasi antara cara-cara tertentu yang bernilai positif dalam mencapai tujuan dengan tingkahlaku yang diharapkan dan meningkatkan penghargaan bawahan akan pekerjaan yang mengarah pada tujuan. Pada tahun yang sama Fiedler mengembangkan teori kepemimpinan yang efektif. Dikemukakan, efektivitas pola tingkahlaku pemimpin tergantung dari hasil yang ditentukan oleh situasi tertentu. Pemimpin yang memiliki orientasi kerja cenderung lebih efektif dalam berbagai situasi. Semakin sosiabel interaksi kesesuaian pemimpin, tingkat efektivitas kepemim-pinan makin tinggi.

Teori kepemimpinan berikutnya adalah teori humanistik dengan para peloporargryris, blake dan mouton, rensis likert, dan douglas mcgregor. Teori ini secara umum berpendapat, secara alamiah manusia merupakan “motivated organism”. Organisasi memiliki struktur dan sistem kontrol tertentu. Fungsi dari kepemimpinan adalah memodifikasi organisasi agar individu bebas untuk merealisasikan potensi motivasinya didalam memenuhi kebutuhannya dan pada waktu yang sama sejalan dengan arah tujuan kelompok.

Apabila dicermati, didalamteori humanistik, terdapat tiga variabel pokok, yaitu; (1), kepemimpinan yang sesuai dan memperhatikan hati nurani anggota dengan segenap harapan, kebutuhan, dan kemampuan-nya, (2), organisasi yang disusun dengan baik agar tetap relevan dengan kepentingan anggota disamping kepentingan organisasi secara keseluruhan, dan (3), interaksi yang akrab dan harmonis antara pimpinan dengan anggota untuk menggalang persatuan dan kesatuan serta hidup damai bersama-sama.

Blanchard, zigarmi, dan drea bahkan menyatakan, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang anda lakukan terhadap orang lain, melainkan sesuatu yang anda lakukan bersama dengan orang lain (blanchard & zigarmi, 2001).
Teori kepemimpinan lain, yang perlu dikemukakan adalah teori perilaku kepemimpinan. Teori ini menekankan pada apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin. Dikemukakan, terdapat perilaku yang membedakan pemimpin dari yang bukan pemimpin.

Jika suatu penelitian berhasil menemukan perilaku khas yang menunjukkan keberhasilan seorang pemimpin, maka implikasinya ialah seseorang pada dasarnya dapat dididik dan dilatih untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif. Teori ini sekaligus menjawab pendapat, pemimpin itu ada bukan hanya dilahirkan untuk menjadi pemimpin tetapi juga dapat muncul sebagai hasil dari suatu proses belajar.

Selain teori-teori kepemimpinan yang telah dikemukakan, dalam perkembangan yang akhir-akhir ini mendapat perhatian para pakar maupun praktisi adalah dua pola dasar interaksi antara pemimpin dan pengikut yaitu pola kepemimpinantransformasional dan kepemimpinan transaksional. Kedua pola kepemimpinan tersebut, adalah berdasarkan pendapat seorang ilmuwan di bidang politik yang bernama james mcgregor burns (1978) dalam bukunya yang berjudul “leadership”.

Selanjutnya bass (1985) meneliti dan mengkaji lebih dalam mengenai kedua pola kepemimpinan dan kemudian mengumumkan secara resmi sebagai teori, lengkap dengan model dan pengukurannya.

Kompetensi kepemimpinan
Suatu persyaratan penting bagi efektivitas atau kesuksesan pemimpin (kepemimpinan) dan manajer (manajemen) dalam mengemban peran, tugas, fungsi, atau pun tanggung jawabnya masing-masing adalah kompetensi. Konsep mengenai kompetensi untuk pertamakalinya dipopulerkan oleh boyatzis (1982) yang didefinisikan kompetensi sebagai “kemampuan yang dimiliki seseorang yang nampak pada sikapnya yang sesuai dengan kebutuhan kerja dalam parameter lingkungan organisasi dan memberikan hasil yang diinginkan”. Secara historis perkembangan kompetensi dapat dilihat dari beberapa definisi kompetensi terpilih dari waktu ke waktu yang dikembangkan oleh burgoyne (1988), woodruffe (1990), spencer dan kawan-kawan (1990), furnham (1990) dan murphy (1993).

Menurut rotwell, kompetensi adalah an area of knowledge or skill that is critical for production ke outputs. Lebih lanjut rotwell menuliskan bahwa competencies area internal capabilities that people brings to their job; capabilities which may be expressed in a broad, even infinite array of on the job behaviour. Spencer (1993) berpendapat, kompetensi adalah “… an undderlying characteristicof an individual that is causally related to criterion referenced effective and/or superior performance in ajob or situation”. Senada dengan itu zwell (2000) berpendapat “competencies can be defined as the enduring traits and characteristics that determine performance. Examples of competencies are initiative, influence, teamwork, innovation, and strategic thinking”.

Beberapa pandangan di atas mengindikasikan bahwa kompetensi merupakan karakteristik atau kepribadian (traits) individual yang bersifat permanen yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang. Selain Traits dari Spencer dan Zwell tersebut, terdapat karakteristik kompetensi lainnya, yatu berupa motives, self koncept (Spencer, 1993), knowledge, dan skill ( Spencer, 1993; Rothwell and Kazanas, 1993).

Menurut review Asropi (2002), berbagai kompetensi tersebut mengandung makna sebagai berikut : Traits merunjuk pada ciri bawaan yang bersifat fisik dan tanggapan yang konsisten terhadap berbagai situasi atau informasi. Motives adalah sesuatu yang selalu dipikirkan atau diinginkan seseorang, yang dapat mengarahkan, mendorong, atau menyebabkan orang melakukan suatu tindakan. Motivasi dapat mengarahkan seseorang untuk menetapkan tindakan-tindakan yang memastikan dirinya mencapai tujuan yang diharapkan (amstrong, 1990).

Self concept adalah sikap, nilai, atau citra yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri; yang memberikan keyakinan pada seseorang siapa dirinya. Knowledge adalah informasi yang dimilki seseorang dalam suatu bidang tertentu. Skill adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas tertentu, baik mental atau pun fisik. Berbeda dengan keempat karakteristik kompetensi lainnya yang bersifat intentiondalam diri individu, skill bersifat action. Menurut spencer (1993), skill menjelma sebagai perilaku yang di dalamnya terdapat motives, traits, self concept, dan knowledge.

Dalam pada itu, menurut spencer (1993) dan kazanas (1993) terdapat kompetensi kepemimpinan secara umum yang dapat berlaku atau dipilah menurut jenjang, fungsi, atau bidang, yaitu kompetensi berupa : result orientation, influence, initiative, flexibility, concern for quality, technical expertise, analytical thinking, conceptual thinking, team work, service orientation, interpersonal awareness, relationship building, cross cultural sensitivity, strategic thinking, entrepreneurial orientation, building organizational commitment, danempowering others, develiping others.

Kompetensi-kompetensi tersebut pada umumnya merupakan kompetensi jabatan manajerial yang diperlukan hampir dalam semua posisi manajerial. Ke 18 kompetensi yang diidentifikasi Spencer dan Kazanas tersebut dapat diturunkan ke dalam jenjang kepemimpinan berikut : pimpinan puncak, pimpinan menengah, dan pimpinan pengendali operasi teknis (supervisor). Kompetensi pada pimpinan puncak adalah result (achievement) orientation, relationship building, initiative, influence, strategic thinking, building organizational commitment, entrepreneurial orientation, empowering others, developing others, danfelexibilty.

Adapun kompetensi pada tingkat pimpinan menengah lebih berfokus pada influence, result (achievement) orientation, team work, analitycal thinking, initiative, empowering others, developing others, conceptual thingking, relationship building, service orientation, interpersomal awareness, cross cultural sensitivity, dan technical expertise. Sedangkan pada tingkatan supervisor kompetensi kepemimpinannya lebih befokus pada technical expertise, developing others, empowering others, interpersonal understanding, service orientation, building organzational commitment, concern for order, influence, felexibilty, relatiuonship building, result (achievement) orientation, team work, dan cross cultural sensitivity.

Dalam hubungan ini Kouzes dan Posner 1995) meyakini bahwa suatu kinerja yang memiliki kualitas unggul berupa barang atau pun jasa, hanya dapat dihasilkan oleh para pemimpin yang memiliki kualitas prima. Dikemukakan, kualitas kepemimpinan manajerial adalah suatu cara hidup yang dihasilkan dari “mutu pribadi total”ditambah “kendali mutu total” ditambah “mutu kepemimpinan”.

Berdasarkan penelitiannya, ditemukan bahwa terdapat 5 (lima) praktek mendasar pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan unggul, yaitu; (1) pemimpin yang menantang proses, (2) memberikan inspirasi wawasan bersama, (3) memungkinkan orang lain dapat bertindak dan berpartisipasi, (4) mampu menjadi penunjuk jalan, dan (5) memotivasi bawahan.

Adapun ciri khas manajer yang dikagumi sehingga para bawahan bersedia mengikuti perilakunya adalah, apabila manajer memiliki sifat jujur, memandang masa depan, memberikan inspirasi, dan memiliki kecakapan teknikal maupun manajerial. Sedangkan Burwash (1996) dalam hubungannya dengan kualitas kepemimpinan manajer mengemukakan, kunci dari kualitas kepemimpinan yang unggul adalah kepemimpinan yang memiliki paling tidak 8 sampai dengan 9 dari 25 kualitas kepemimpinan yang terbaik. Dinyatakan, pemimpin yang berkualitas tidak puas dengan “status quo” dan memiliki keinginan untuk terus mengembangkan dirinya.

Beberapa kriteria kualitas kepemimpinan manajer yang baik antara lain, memiliki komitmen organisasional yang kuat, visionary, disiplin diri yang tinggi, tidak melakukan kesalahan yang sama, antusias, berwawasan luas, kemampuan komunikasi yang tinggi, manajemen waktu, mampu menangani setiap tekanan, mampu sebagai pendidik atau guru bagi bawahannya, empati, berpikir positif, memiliki dasar spiritual yang kuat, dan selalu siap melayani.

Dalam pada itu, warren bennis (1991) juga mengemukakan bahwa peran kepemimpinan adalah “empowering the collective effort of the organization toward meaningful goals” dengan indikator keberhasilan sebagai berikut : people feel important; learning and competence are reinforced; people feel they part of the organization; dan work is viewed as excisting, stimulating, and enjoyable.sementara itu, soetjipto wirosardjono (1993) menandai kualifikasi kepemimpinan berikut, “kepemimpinan yang kita kehendaki adalah kepemimpinan yang secara sejati memancarkan wibawa, karena memiliki komitmen, kredibilitas, dan integritas”.

Sebelum itu, Bennis bersama Burt Nanus (1985) mengidentifikasi bentuk kompetensi kepemimpinan berupa “the ability to manage” dalam empat hal :attention (= vision), meaning (= communication), trust (= emotional glue), and self (= commitment, willingness to take risk). Kemudian pada tahun 1997, keempat konsep tersebut diubah menjadi the new rules of leradership berupa (a) provide direction and meaning, a sense of purpose; (b) generate and sustain trust, creating authentic relationships; (c) display a bias towards action, risk taking and curiosity; dan (d) are purveyors of hope, optimism and a psychological resilience that expects success (lihat karol kennedy, 1998; p.32).

Bagi Rossbeth Moss Kanter (1994), dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin terasa kompleks dan akan berkembang semakin dinamik, diperlukan kompetensi kepemimpinan berupa conception yang tepat, competency yang cukup, connection yang luas, dan confidence.

Tokoh lainnya adalah ken shelton (ed, 1997) mengidentikasi kompetensi dalam nuansa lain., menurut hubungan pemimpin dan pengikut, dan jiwa kepemimpinan. Dalam hubungan pemimpin dan pengikut, ia menekankan bagaimana keduanya sebaiknya berinterkasi. Fenomena ini menurut pace memerlukan kualitas kepemimpinan yang tidak mementingkan diri sendiri. Selain itu, menurut carleff pemimpin dan pengikut merupak dua sisi dari proses yang sama. Dalam hubungan jiwa kepemimpinan, sejumlah pengamat memasuki wilayah “spiritual”. Rangkaian kualitas lain yang mewarnainya antara lain adalah hati, jiwa, dan moral.

Bardwick menyatakan bahwa kepemimpinan bukanlah masalah intelektual atau pengenalan, melainkan masalah emosional. Sedangkan bell berpikiran bahwa pembimbing yang benar tidak selamanya merupakan mahluk rasional. Mereka seringkali adalah pencari nyala api.

Sumber : http://aparaturnegara.bappenas.go.id/data/kajian/kajian-2003/dimensi%

Pemimpin Sebagai Pelayan Rakyat

Pemimpin Sebagai Pelayan Rakyat

Rekonstruksi Makna Pemimpin

Realita Kondisi Bangsa
“Jatuh bangunnya segala sesuatu, bergantung pada pemimpin”. Demikanlah pernyataan John Maxwell, seorang pakar kepemimpinan dunia. Pernyataan ini mengandung arti bahwa sebuah organisasi dalam berbagai skala dan bentuk–mulai dari keluarga, sekolah, komunitas tertentu, hingga bangsa dan negara–sangat bergantung pada pemimpin. Jika pemimpinnya baik, maka dapat dipastikan bahwa organisasi yang dipimpinnya akan berjalan dengan baik. Sebaliknya, jika pemimpinnya buruk, maka organisasi yang dipimpinnya akan mengalami kemunduran; dan bukan tidak mungkin akan mengalami kejatuhan. Jelaslah, bahwa jatuh bangunnya segala sesuatu, bergantung pada pemimpin.

Lihatlah kondisi Indonesia saat ini! Adakah perubahan signifikan yang terjadi sejak Indonesia merdeka, 64 tahun yang lalu? Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan tidak ada perubahan signifikan yang terjadi pada bangsa kita. Bukannya membaik, malah keadaan Indonesia semakin memburuk. Mari buka mata dan pasang telinga lebar-lebar! Krisis terjadi hampir di segala bidang. Politik Indonesia Indonesia kerap diwarnai dengan pertentangan antarpartai yang bersitegang demi mengokohkan kedudukannya di pemerintahan.

Kasus Sipadan dan Ligitan, serta isu pulau-pulau yang dijual, membuktikan pertahanan negara yang rapuh. Klaim-klaim negara lain atas hak milik negara–mulai dari makanan khas Indonesia seperti rendang dan tempe, hingga seni dan budaya seperti reog dan batik–menjadi bukti tidak acuhnya negara dalam memelihara aset-aset berharga milik bangsa.

Dalam bidang pendidikan, peraturan-peraturan baru yang ditetapkan sehubungan dengan sistem ujian akhir, mendapat tentangan dari berbagai pihak. Kemiskinan pun merajalela. Masih banyak rakyat kecil yang berpendapatan hanya Rp10.000/hari dan makan hanya dengan menggunakan nasi aking. Masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Bahkan warga Desa Krambilsawit di Gunungkidul, harus mengeluarkan uang sebesar Rp150.000 untuk membeli 5.000 liter air (Kompas, 31/08/09). Rakyat kecil berteriak karena harga bahan-bahan pokok sulit dijangkau dan hak-hak mereka ditindas. TKW Indonesia yang menjadi pahlawan devisa negara, ternyata sering mendapat perlakuan buruk dari majikannya; disiksa dan bahkan sampai meninggal. Sungguh miris dan sangat ironis!

Kondisi bangsa tersebut, hanya bagian kecil saja dari keseluruhan kondisi bangsa yang semakin merosot dan “jatuh”. Masih banyak kasus-kasus memiriskan lainnya, yang membuat mata terbelalak dan bulu kuduk merinding.

Realita Kondisi Pemimpin Bangsa
Kalau kita mau jujur, kondisi bangsa yang sedemikian kronis tersebut, sedikit banyaknya dipengaruhi oleh kondisi pemimpin bangsa. Merosotnya keadaan bangsa, merupakan dampak langsung dari merosotnya kualitas para pemimpin. Dalam rumus matematikanya, bisa dikatakan bahwa kondisi sebuah bangsa akan berbanding lurus dengan kondisi para pemimpin bangsanya. Seperti diungkapkan sebelumnya, jika pemimpinnya baik, maka bangsanya akan berhasil. Sebaliknya, jika pemimpinnya buruk, maka bangsanya akan mengalami kemerosotan atau kejatuhan. Jelaslah bahwa kelangsungan atau kejatuhan sebuah bangsa, sangat dipengaruhi oleh kondisi lapisan elit (pemimpinnya).

Rumus tersebut dibuktikan oleh kondisi bangsa dan kondisi pemimpin kita saat ini. Bagaimana tidak, pemimpin yang diharapkan dapat mewujudkan aspirasi rakyat, malah sibuk memerkaya diri. Korupsi pejabat negara, mulai dari Bupati hingga anggota DPR, sudah menjadi rahasia umum di negara ini. Dengan dalih studi banding, pemimpin bangsa menghamburkan uang negara untuk berwisata ke luar negeri. Integritas pemimpin menjadi barang langka, terbukti dengan terungkapnya sejumlah kasus amoral pemimpin seperti perkelahian di ruang sidang, bolosnya anggota dewan dalam sidang paripurna yang mengakibatkan ditundanya sidang, dan skandal seks di antara anggota dewan. Hal ini semakin menimbulkan rasa antipati rakyat terhadap pemimpin.

Kondisi pemimpin bangsa tersebut merupakan sebuah kenyataan. Aneh bin ajaib; sebuah realita kepemimpinan yang terjadi di Indonesia. Pemimpin yang seharusnya mengabdi pada rakyat, malah mengabdikan dirinya pada uang dan kekuasaan. Pemimpin yang seharusnya melayani rakyat, malah melayani diri sendiri dengan menggunakan uang rakyat seenaknya. Pemimpin yang seharusnya berkarya dan mendatangkan kebaikan bagi rakyat, malah berdiam diri, sampai terkuaknya masalah-masalah baru, yang menuntut mereka–mau tidak mau–untuk angkat tangan. Pemimpin yang seharusnya menjadi suri teladan bagi rakyat, malah menjadi bahan tawa dan omongan skeptis rakyat. Sangat ironis!

Rekonstruksi Makna Pemimpin sebagai Solusi terhadap Buruknya Kondisi Pemimpin Bangsa. Kondisi pemimpin Indonesia yang demikian ruwet tersebut, perlu dibenahi segera, agar tidak menjadi benang kusut yang ‘tak terselesaikan. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan melihat pada inti masalah (core problem) yang menjadi penyebab buruknya kondisi pemimpin Indonesia; untuk kemudian ditelaah dan diberikan solusi.

Beberapa Penyebab Buruknya Pemimpin
Ada beberapa faktor penyebab buruknya kondisi pemimpin Indonesia saat ini, seperti:
1. Kurangnya rasa kepemilikan (self belonging) terhadap bangsa,
2. Rendahnya kualitas kepemimpinan,
3. Rendahnya komitmen dan tanggung jawab terhadap tugas,
4. Kkepekaan moral yang mulai berkurang atau bahkan menurun, dan sebagainya.

Akan tetapi, faktor-faktor tersebut hanya merupakan faktor skunder. Jika ditinjau lebih lanjut lagi, maka akar permasalahan dari buruknya kondisi pemimpin Indonesia saat ini adalah kurangnya (jika tidak mau disebut “tidak ada”) pemahaman atau penghayatan terhadap “makna” pemimpin itu sendiri. Ringkasnya, “Apakah pemimpin itu”?

Melihat kondisi pemimpin saat ini, mungkin saja pemimpin kita “tidak benar-benar menyadari” arti penting seorang pemimpin. Mungkin, pemimpin kita saat ini “tidak paham betul” mengenai hak dan kewajiban mereka sebagai pemimpin. Bisa saja pemimpin kita tidak “sungguh-sungguh menghayati” panggilan mulia mereka sebagai pengemban amanat rakyat. Sepertinya, pemaknaan tentang menjadi pemimpin, sudah mulai memudar di kalangan elit bangsa.

Jika pemimpin sungguh-sungguh menyadari arti penting seorang pemimpin, maka seharusnya perilaku amoral yang menimbulkan cibiran rakyat, tidak akan terjadi. Jika pemimpin betul-betul memahami hak dan kewajiban mereka, maka tindakan-tindakan memerkaya diri dan melalaikan tanggung jawab, tidak akan mungkin terjadi. Jika pemimpin menghayati dengan sungguh panggilan mulia mereka sebagai pengemban amanat rakyat, maka tindakan-tindakan yang menyudutkan posisi rakyat, tidak akan mungkin terjadi.

Untuk mengatasi buruknya kondisi pemimpin kita saat ini–dimana pemahaman dan penghayatan yang utuh akan makna pemimpin mulai pudar maka rekonstruksi terhadap makna pemimpin, menjadi penting dan mendesak. Sebab jika tidak, krisis kepemimpinan akan semakin menjadi-jadi, yang pada akhirnya, akan berdampak pula pada kondisi bangsa dan negara. Oleh karena itu, solusi yang dirasa tepat dalam membenahi buruknya kondisi pemimpin saat ini adalah dengan melakukan rekonstruksi (membangun kembali) terhadap makna pemimpin. Ringkasnya, “Apakah pemimpin itu?”

Rekonstruksi makna pemimpin merupakan suatu langkah going back to basic; dimana kita membenahi hal-hal yang paling mendasar dalam konsep kepemimpinan, yaitu “Apa itu Pemimpin?”. Rekonstruksi makna pemimpin perlu mendapat perhatian serius karena merupakan tahap awal dalam upaya membenahi kondisi pemimpin bangsa yang sedemikian ruwet. Rekonstruksi makna pemimpin menjadi solusi yang membawa angin segar dan kesejukan bagi peliknya permasalahan kondisi pemimpin bangsa saat ini. Jika pemahaman dan penghayatan seseorang terhadap makna pemimpin sudah benar, maka niscaya wujud kepemimpinannya pun akan benar. Bukankah apa yang ada “di dalam diri” seseorang akan terwujud dalam tampakan luarnya?

Sederhana saja; apa yang dipikirkan dan dirasakan seseorang, akan terwujud dalam perkataan dan perbuatannya. Jadi, jika pemahaman dan penghayatan seorang pemimpin terhadap makna pemimpin sudah beres (dalam arti: benar), maka tampakan luarnya pun akan beres. Misalnya, jika seorang pemimpin menyadari dengan sungguh-sungguh akan perannya sebagai abdi rakyat, maka ia akan melayani rakyat dan mengusahakan yang terbaik bagi rakyat. Hal ini berbeda dengan seorang pemimpin yang tidak menyadari dengan sungguh-sungguh akan perannya sebagai abdi rakyat; bukannya melayani rakyat, ia malah melayani diri sendiri dengan sibuk memerkaya diri sendiri.

Perubahan Pola Pikir
Bagaimana cara merekonstruksi makna pemimpin, sehingga kita dapat memiliki pemahaman dan penghayatan yang utuh akan makna pemimpin? Setidaknya, ada satu hal penting yang dapat dilakukan seorang pemimpin agar dapat memiliki pemaknaan yang utuh tentang “Apa itu Pemimpin?”. Yang harus dilakukan adalah dengan mengubah pola pikir. Pola pikir kita tentang “pemimpin”, harus berubah. Ini menjadi semacam refleksi kritis bagi kita. Pemimpin bukanlah penguasa bertangan besi yang menindas dan menyengsarakan rakyat. Pemimpin bukan sekadar pembuat peraturan. Menjadi pemimpin bukan sebagai ajang untuk memerkaya diri dan berfoya-foya. Pemikiran ini harus dirombak dan diubah. Perombakan pola pikir diperlukan karena ia akan menjadi dasar dari setiap perilaku kita.

Pola pikir yang benar, akan terwujud dalam 3 simpulan tentang “Apa itu Pemimpin?”
1. pemimpin itu adalah seorang “pelayan”.
Memimpin rakyat sama dengan melayani rakyat; artinya menjadikan rakyat sebagai “tuan”, bukannya diri sendiri. Pemimpin yang memiliki pola iker melayani, hanya akan berusaha untuk menyenangkan rakyat, dan bukannya menyenangkan diri sendiri. Dengan pola iker pemimpin sebagai pelayan, pemimpin akan menjadi “hamba” bagi rakyat yang dilayaninya. Jelas, karena pemimpin adalah orang yang dipercaya oleh rakyat untuk mengemban amanat rakyat.

2. pemimpin adalah orang yang berkarya.
Memimpin rakyat berarti berkarya atau bekerja; artinya memenuhi kebutuhan rakyat dan mengusahakan yang terbaik bagi rakyat. Pemimpin yang berkarya, tidak akan pernah tinggal diam. Ia akan terus memacu diri untuk berkontribusi dan memberikan sumbangsih yang berharga bagi bangsa. Berkarya bagi bangsa, merupakan suatu harkat dan panggilan yang mulia.

3. pemimpin adalah teladan.
Menjadi pemimpin adalah menjadi teladan; artinya menunjukkan sikap hidup yang dapat ditiru dan dipercayai oleh rakyat. Ia memiliki keluhuran akhlak dan keagungan budi pekerti. Ia memiliki kesalehan sosial yang tidak tertandingi. Ia memiliki integritas hidup; apa yang dikatakannya itulah yang dilakukannya. Pemimpin yang demikian, akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Kepercayaan rakyat menjadi suatu dukungan tak ternilai bagi pemimpin. Jika pemimpin mendapat kepercayaan dari rakyat, maka akan tercipta kohesi nasional yang semakin kuat dan utuh.

Ketiga konsep tersebut–yaitu pemimpin sebagai pelayan, pemimpin yang berkarya, dan pemimpin sebagai teladan (panutan)–lahir dari pola pikir yang benar, utuh dan tidak dangkal tentang “Apa itu Pemimpin?”. Dengan memiliki pola pikir yang benar, maka pemimpin dapat menjalankan perannya dengan benar dan efektif, sehingga kemajuan bangsa, dapat dicapai.

Sekarang Juga!
Setiap orang–dengan profesi dan kapasitas masing-masing–penting dan berharga bagi pembangunan bangsa. Akan tetapi, pemimpin sebagai bagian kecil dari bangsa, memiliki porsi lebih dalam hal membangun bangsa. Sebagai pengemban amanah rakyat, tanggung jawabnya tidaklah mudah. Oleh karena itu, pemimpin perlu menjalankan peran dan fungsinya dengan seoptimal mungkin. Akan tetapi, bila diperhadapkan dengan realita kondisi pemimpin sekarang yang sangat memiriskan hati, timbul rasa pesimis, mungkinkah Indonesia bangkit?
Jawabannya tegas: Ya! Indonesia masih punya harapan untuk maju! Indonesia masih punya harapan untuk bangkit dan menjadi bangsa yang besar. Dan untuk mencapai harapan kebangkitan bangsa ini, harus dimulai dari diri pemimpin, sebab keberlangsungan dan kejatuhan sebuah bangsa, bergantung pada pemimpin. Jika bangsa ingin maju, maka pemimpinnya harus beres.

Menjadi pemimpin yang benar, tidaklah mudah, apalagi di zaman sekarang yang sudah tercemar oleh isme-isme tertentu yang sangat berbahaya, seperti individualisme, materialisme, hedonisme, dan sebagaihya. Cara paling ampuh agar seorang pemimpin bisa membawa kemajuan bagi bangsanya adalah dengan kembali pada hal yang mendasar, kembali melakukan refleksi kritis terhadap makna pemimpin, yaitu “Apa itu Pemimpin”.

Pemahaman yang benar akan makna pemimpin, akan menjadi dasar bagi kepemimpinan yang efektif. Waktu untuk membangun bangsa tidaklah banyak, kondisi bangsa sudah semakin rumit dan ruwet. Oleh karena itu, rekonstruksi makna pemimpin, menjadi penting dan mendesak. Rekonstruksi makna pemimpin: Sekarang Juga!

Sekarang adalah waktunya untuk membangun bangsa. Sekarang adalah waktunya untuk memandu ibu pertiwi. Ya, sekarang juga! Mulai dengan merekonstruksi hal yang paling mendasar namun sangat hakiki: “Apa itu Pemimpin?”
_____________________________________________________________________________
https://puansarisiregar.wordpress.com/2012/03/10/rekonstruksi-makna-pemimpin/

Pemimpin Sebagai Wakil Tuhan di Muka Bumi

Pemimpin Sebagai Wakil Tuhan di Muka Bumi

Pesan Rasulullah untuk Para Pemimpin

KH Miftah Faridl
Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Dewan Pembina Sinergi Foundation, Twitter @miftahfaridl_ID
DI antara perubahan penting menyangkut proses suksesi kepemimpinan di Indonesia sejak reformasi tahun 1998, adalah semakin meningkatnya partisipasi politik masyarakat. Pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung. Ini berarti telah terjadi peningkatan signifikan frekuensi keterlibatan masyarakat dalam proses politik. Padahal, dalam banyak hal, tidak sedikit masyarakat yang belum memahami hakikat kepemimpinan bagi kepentingan hidup masyarakatnya. Tak heran jika di sana-sini ditemukan berbagai ketimpangan sebagai akibat langsung ataupun tidak langsung dari proses politik yang dilaluinya. Di beberapa daerah bahkan pilkada berujung konflik yang sangat merugikan.

Masyarakat, sejatinya tahu dan paham posisi dan arti penting kepemimpinan. Bagi seorang Muslim, kepemimpinan merupakan tema penting dan krusial yang bukan saja berkaitan dengan dimensi sosial, tapi juga teologis. Konsep kepemimpinan dalam Islam dirumuskan dan diwujudkan berdasarkan doktrin kekhalifahan. Petunjuk Alquran (QS Al Baqarah: 30) menyatakan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi, antara lain, mengisyaratkan salah satu fungsi manusia sebagai pemimpin.

Dalam terminologi keislaman, pemimpin biasa juga disebut sebagai khalifah, amir atau sulthon (sultan), yang berperan sebagai pemimpin sekaligus pemelihara alam semesta, dan bukan hanya alam manusia (rahmatan lil alamin). Manusia mendapat kehormatan sebagai wakil Tuhan di muka bumi, yang atas dasar kehormatan itulah ia harus melindungi alam semesta, bukan sebaliknya malah merusak atau melakukan eksploitasi kekayaan di dalamnya. Bahkan, kerusakan-kerusakan di alam semesta yang diakibatkan oleh tangan-tangan manusia pada dasarnya hanya akan membuat manusia sendiri menderita.

Berkaitan dengan urgensi kepemimpinan, Islam dengan tegas menekankan pentingnya pemimpin, dan masyarakat Islam perlu punya pemimpin. Ajaran Islam juga menggarisbawahi pentingnya seorang Muslim untuk berusaha memiliki kemampuan memimpin, sebab dakwah amar maruf nahi munkar yang menjadi salah satu tugas yang diembannya paling efektif dilakukan melalui kekuasaan. Pemimpin yang baik mendapatkan penghargaan dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Sebaliknya pemimpin yang tidak baik mendapat laknat dan kutukan dari Allah.

Lalu, apa yang sebaiknya diperhatikan oleh seorang pemimpin dan masyarakat yang dipimpinnya? Ada sejumlah pesan moral dari Rasulullah Saw yang penting untuk direnungkan oleh mereka yang mendapat amanah sebagai pemimpin dan bagi mereka yang ingin jadi pemimpin.

Pertama, kepemimpinan pada dasarnya merupakan amanah. Kepada sahabat Abu Dzarrin, Rasulullah Saw menyampaikan pesan: “Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah suatu amanah, dan di hari kiamat akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan kecuali mereka yang mengambilnya dengan cara yang baik serta dapat memenuhi kewajibannya sebagai pemimpin dengan baik” (HR Muslim).

Kedua, amanah ini harus diserahkan kepada ahlinya, atau kepada orang-orang yang layak untuk diangkat sebagai pemimpin. Kepemimpinan bukanlah barang dagangan yang dapat diperjualbelikan. Karena itu, pada prosesnya, seorang calon pemimpin tidak dibeli oleh mereka yang menghendakinya, ataupun membeli dukungan dengan mengharap kemenangan. Rasulullah SAW bersabda: “Tunggu saat kehancurannya, apabila amanat itu disia-siakan. Para sahabat serentak bertanya, ‘Ya Rasulullah apa yang dimaksud menyia-nyiakan amanah itu?’ Nabi Saw bersabda: Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah tanggal kehancurannya.” (HR Bukhari).

Ketiga, adanya hubungan cinta kasih antara pemimpin dan yang dipimpin. Hubungan cinta kasih yang hakiki. Rasulullah SAW bersabda “Sebaik-baiknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun mencintamu; kamu menghormati mereka dan merekapun menghormati kamu. Pun sejelek-jeleknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun benci kepada kamu. Kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknatmu.” (HR Muslim).

Prinsip kepemimpinan di atas mengisyaratkan keharusan umat Islam untuk memilih pemimpin yang dapat membimbing kehidupannya. Secara teologis ayat-ayat Alquran menegaskan agar sesama Muslim hanya memilih pemimpin dari kalangan mereka sendiri. Karena kepemimpinan diyakini sebagai suatu prinsip yang harus ditegakkan dalam masyarakat. Seorang Muslim sesuai dengan kapasitas dan keilmuan dan sosialnya memiliki hak yang sama untuk menjadi pemimpin. Ia bisa memilih sekaligus dipilih.

Tarik-menarik antara hak dan kewajiban inilah yang kemudian Islam memberikan petunjuk bagaimana sebaiknya Muslim memilih pemimpin. Beberapa isyarat Rasulullah mengatakan, “Barangsiapa yang mengangkat seseorang untuk mengurus urusan Mukmin padahal ia tahu ada orang yang lebih pantas untuk mengurus itu, maka berarti ia telah berkhianat kepada Allah, khianat kepada Rasulullah, dan khianat terhadap orang Mukmin.” (HR Hakim).

Begitu pentingnya seorang pemimpin bagi komunitas Muslim, ajaran Islam mengatur secara khusus urusan ini. Seorang Muslim tidak seharusnya menyia-nyiakan urusan yang termasuk pada wilayah politik ini, meskipun tidak pula harus menjadikan proses sebagai sesuatu yang segala-galanya. Pastikan bahwa pemimpin yang dipilih adalah mereka yang adil atau yang paling berpotensi untuk berbuat adil. Ingat pesan Rasulullah SAW, “Bahwa orang yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan orang yang terdekat dengan-Nya ialah pemimpin yang adil; sedangkan orang yang paling jauh dengan-Nya adalah pemimpin yang jahat.” (HR Tirmidzi).

Tidak mudah memang menentukan potensi keadilan dalam diri seorang pemimpin. Tapi paling tidak mereka adalah individu yang paling diduga kuat memiliki pengetahuan dan komitmen yang tinggi pada agama dan pengetahuan agamanya. Dia adalah individu yang sejak dini berada di komunitas beragama, tapi dia juga adalah orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai dalam urusan kepemimpinan yang akan dihadapinya.

Namun demikian, pada praktiknya dalam kehidupan bermasyarakat, faktor-faktor lingkungan budaya ternyata amat mempengaruhi pola penjaringan seorang pemimpin. Sehingga antara satu daerah dengan yang lain kerap memiliki satu formula kepemimpinan yang berbeda.

Alquran mengilustrasikan hubungan pemimpin dengan masyarakat yang dipimpinnya sebagai suatu sistem yang saling mempengaruhi. Sistem itu sendiri adalah kumpulan komponen-komponen yang berada pada alur yang sama. Dalam Alquran, digambarkan seorang pemimpin yang baik diperuntukan bagi masyarakat yang baik pula. Atau dengan perkataan lain, suatu masyarakat yang baik hanya dapat dipimpin dan hanya membutuhkan seorang pemimpin yang baik pula.

Pada dasarnya, umat mesti taat kepada pemimpin. Namun, keharusan taat ini, tidak berarti masyarakat kehilangan fungsi kontrol. Terlepas dari apakah pengontrolan itu terlembaga atau tidak. Islam tetap mengisyaratkan setiap individu untuk melakukan kontrol terhadap berbagai kemungkaran, termasuk yang dilakukan oleh pemimpinnya.

Abu Darda RA pernah berkata, “Telah memberi amanat kepada kami, Rasulullah SAW, bahwa yang aku takuti atas kamu adalah pemimpin yang menyesatkan.” (HR Ahmad).

Karena itu, dengan merenungkan hikmah dan pesan-pesan moral seperti yang tertuang dalam hadits-hadits tersebut, ketika seseorang mendapat peluang untuk menjadi pemimpin, sambutlah amanah kepemimpinan itu dengan tetap menyebut nama-Nya; Bismillah atau alhamdulillah, atau subhanallah, atau astaghfirullah, atau bahkan innalillahi wa inna ilahi rajiun.***
___________________________________________
http://www.pikiran-rakyat.com/kolom/2017/01/19/pesan-rasulullah-untuk-para-pemimpin-391165

Beberapa Tips Menjadi Pemimpin Visioner

Beberapa Tips Menjadi Pemimpin Visioner

Pemimpin memang sosok yang selalu menjadi sorotan banyak orang. Kedudukan dan citranya akan berasosiasi dengan sikap bawahannya. Jika pemimpin memiliki citra yang baik maka bawahannya pun cenderung akan mengikutinya. Maka tak mengherankan jika para pemimpin ini memang akan dituntut untuk selalu menampilkan kepribadian yang baik. Salah satu sikap dan kepribadian baik dan mumpuni yang bisa dijadikan acuan dari seorang pemimpin adalah pandangan yang maju ke depan (visioner).

Sebagai pemimpin yang mengepalai sebuah organisasi, lembaga atau bisnis mereka memang harus memiliki sebuah pandangan visioner yang jauh ke depan. Dengan adanya pandangan dari seorang pemimpin visioner ini maka ia akan mampu membuat dan menjadikan organisasi atau binsis mereka menjadi lebih baik dimasa yang akan datang. Lalu bagaimanakan cara untuk bisa menjadi pemimpin visioner? Berikut beberapa tips yang bisa diterapkannya.

1. Pimpinan Visioner Lihai Menganalisis Tren
Tips pertama untuk menjadi pemimpin visioner adalah dengan selalu belajar menganalisis tren. Pasar atau lingkungan memang akan memiliki tren (kecenderungan pada sebuah hal) yang umumnya akan berubah-ubah seiring waktu. Mengapa pemimpin harus mengikuti tren? Karena dengan mengikuti tren, pemimpin akan mampu untuk memperoleh banyak konsumen atau dukungan dari publik.

Nah jika Anda ingin menjadi pemimpin yang visioner maka Anda mau tak mau harus mulai bisa belajar menganalisis tren. Caranya Anda harus terjun ke lapangan dan melakukan pengamatan dan observasi atau riset. Selain menganalisis pasar, Anda juga perlu melakukan kajian pada industri atau perusahaan lain.

Saat Anda sudah sering melakukan riset pasar ini maka intuisi Anda akan semakin terlatih dan cepat untuk bisa melihat tren dan peluang pasar. Pendekatan lain selain riset pasar untuk bisa menemukan tren pasar yaitu dengan mencari pengalaman baru. Caranya Anda bisa datang ke acara seminar di luar kompetensi yang kamu miliki. Dengan adanya pengalaman baru ini Anda akan mampu mengeksplorasi peluang baru dan juga mengindentifikasi pola tren atau bahkan menciptakan tren itu sendiri.

2. Memperhatikan Hal Detail Setiap Hari
Pandangan yang visioner dari seorang pemimpin juga bisa dilatih dengan cara selalu mengamati hal-hal yang detail setiap harinya. Memang tak jarang banyak orang yang selalu melupakan hal-hal detail dari kehidupannya setiap hari. Inilah yang kemudian membuat intuisi mereka pada masa depan menjadi terdegradasi. Maka jika Anda ingin menjadi pemimpin yang visioner Anda harus bisa memperhatikan hal-hal detail dalam kehidupan sehari-hari Anda.

3. Perencanaan Mendalam Ketika Meraih Peluang
Setelah mendapatkan ide dan pandangan pada masa depan atas peluang yang ada, pemimpin visioner perlu membuat perencanaan mendalam. Mengapa tidak langsung lakukan eksekusi saja? Bukankah lebih baik langsung praktek tanpa harus banyak rencana? Pada beberapa hal memang bisa berlaku, namun untuk hal yang satu ini pemimpin memang harus melakukan perencanaan terlebih dahulu agar semua ide dan peluang yang didapat bisa tercapai di masa depan.

4. Jangan Menunggu Sampai Sempurna
Setelah menemukan ide dan membuat perencanaan, maka saatnya melakukan eksekusi. Segera eksekusi ide itu dan luncurkan ke publik. Jangan menunggu sampai ide atau produk Anda menjadi sempurna. Hal ini karena ide dan produk akan bisa Anda sempurnakan seiring waktu. Lihat saja bagaimana evolusi iPhone yang terus mengalami penyempurnaan dari iPhone 1 hingga iPhone 6 yang sekarang ini. Contoh dari produk lain juga sudah banyak yang terjadi demikian seperti iPhone.

5. Berbagi Visi dengan Orang Lain
Terakhir, tips untuk menjadi pemimpin visioner adalah dengan berbagi visi dengan orang lain. Jika Anda menemukan ide yang brilian, Jangan hanya berfikir subjektif atau berkeyakinan pada asumsi diri sendiri. Lebih dari itu Anda harus bisa membagi visi dari ide tersebut kepada publik. Dukungan aktif dari orang lain memang Anda butuhkan untuk membuat visi dan ide Anda lebih cepat terlaksana.

Jangan membuat kesalahan dengan mengerjakan ide brilian sendirian. Mengapa? Karena banyak kasus di mana pemimpin mengalami kegagalan karena memaksakan ide mereka dan juga mengasumsikan bahwa idenya sudah pasti akan diterima orang lain.
___________________________________________________________________________

Inilah Beberapa Tips Menjadi Seorang Pemimpin Visioner