Buatlah Keputusan Yang Benar!

Buatlah Keputusan Yang Benar!

Tiap hari saya belajar membuat keputusan. Saya semakin menyadari alangkah bahaya jika hidup kita diserahkan begitu saja pada “belenggu rutinitas“.

Kita biarkan hidup mengalir begitu saja, lalu tanpa disadari, usia semakin tua. Anak semakin besar, kulit makin keriput, tenaga makin melemah, otak tambah pikun. Bisa jadi sebentar lagi, mati!

Ketika saya “menengok” ke belakang, berhenti sejenak, merenung, bertafakkur, menghisab diri … alangkah malunya saya dengan “laporan-laporan” yang saya “baca“.

Kinerja amal shaleh saya masih amat sedikit. Pertumbuhan prestasi agak menurun. Pertambahan pengetahuan tidak begitu banyak. Ah, pokoknya memalukan sekali!

Buat saya laporan kehidupan itu penting sekali. Saya jadi “ngeh” ternyata banyak sekali dalam kehidupan masa lalu, ada hal-hal yang tidak saya putuskan dengan benar.

Tanpa sadar saya membiarkan diri saya berada dalam “pengaruh angin“. Kemana angin kencang, kesana saya terbang. Saya tidak mengambil sikap. Saya cenderung bergerak apa adanya. Saya jadi tersenyum kecut, mungkin saya nggak jauh beda dengan bangkai yang terus dibawa arus gelombang.

Ya! “Hanya ikan yang hidup yang bisa menentang arus!”

***

Ada satu hal yang sering menyebabkan saya “tidak mengambil keputusan secara benar”. Saya membiarkan diri saya berada dalam “tawanan rutinitas” dalam kebiasaan-kebiasaan yang secara otomatis-refleks terjadi begitu saja. Akibatnya saya “tidak sadar” bahwa saya sering telah mengambil keputusan. Saya kurang awas dengan situasi.

Dalam keseharian, sebenarnya sering kita berada dalam situasi pengambilan keputusan. Karena adanya perasaan tidak-penting, biasanya keputusan dan pilihan-pilihan yang kita ambil berlalu begitu saja, umumnya refleks, spontan, otomatis, cepat.

Semakin cepat gerak laju kehidupan kita, semakin banyak keputusan-keputusan instan yang kita lakukan. Umumnya prosesnya sederhana dan pasti sebagian besar “tidak dipikirkan secara mendalam“. Beberapa diantaranya diambil sambil makan pagi, sambil bercengkerama, bahkan sambil menerima telpon.

Tidak masalah memang bila keputusan-keputusan itu tidak mempunyai dampak yang besar. Akan tetapi tidak jarang keputusan-keputusan yang kita ambil sambil makan malam misalnya, bisa memiliki pengaruh bertahun-tahun kemudian, yang baru kita sadari setelah berjalan cukup jauh. Beberapa diantaranya bisa jadi dipengaruhi oleh karakter-karakter kita.

Saya akui, saya punya satu kelemahan yang cukup fatal. Saya seorang koleris sanguinus, menurut pola kepribadian-nya Florence Litteur. Ya, itulah saya. Akibatnya saya mudah sekali membuat keputusan-keputusan secara instant, mendadak, dan kadang tanpa pertimbangan. Apalagi jika koleris saya yang terpancing.

Itulah sebabnya saya perlu sekali “belajar membuat keputusan yang saya inginkan“.

Saya tahu kelemahan saya yaitu karakter koleris sanguinis saya sangat dominan saat berada dalam situasi pengambilan keputusan. Saya juga tahu betapa hebatnya dampak sebuah keputusan, apapun itu, dalam arah kehidupan saya. Tentu saya tak boleh asal-asalan. Tentu saja saya tak ingin menyesal dan merasa terpenjara oleh keputusan-keputusan yang telah saya ambil.

Setiap hari, saya membuat keputusan: besar ataupun kecil. Setiap saat saya berada dalam keadaan memilih. Baik saya sadari atau tidak. Artinya, setiap hari saya lah yang memilih takdir saya sendiri. Baik pilihan itu karena saya suka atau karena saya terpaksa. Baik karena saya ingin membahagiakan diri saya, ataukah karena saya ingin membahagiakan orang lain. Atau mungkin juga karena saya tidak tahu apa-apa, lalu saya asal-asalan saja memilih diantara beberapa opsi keputusan.

Yang jelas, sebenarnya tetap saja, saya lah akhirnya yang “membuat keputusan”. Bukan orang lain!

Saya sadar betul, apa pun keputusan yang saya pilih, hasilnya pasti sangat mempengaruhi kehidupan saya dan keluarga saya. Karena itu saya perlu sekali untuk terus belajar “membuat keputusan” secara benar. Saya harus terus belajar “membuat keputusan yang saya inginkan”, bukan yang “orang lain inginkan!”.

Saya sadari cukup banyak keputusan-keputusan yang salah yang saya lakukan di masa lalu. Jadilah ia potret kehidupan sekarang ini. Apa yang saya peroleh hari ini adalah hasil dari keputusan saya dulu-dulu. Tentu sudah tak ada gunanya lagi menyesali apa yang saya terima hari ini. Sekarang, ia sudah menjadi takdir yang tak mungkin saya ubah!

Sebenarnya di waktu-waktu dulu itu, saya telah diberi Tuhan kebebasan untuk “memilih takdir” yang saya ingini. Waktu itu saya diberi kekuasaan oleh Allah SWT secara bebas untuk memilih jalan hidup saya. Seharusnya waktu itu saya bisa “membuat takdir” hidup saya berbeda dari takdir saya hari ini. Tetapi, saya membiarkannya saja. Saya tidak membuat pilihan. Saya tidak memilih. Saya tidak mengambil keputusan.

Menyadari hal itu, saya menyesal sekali. Tapi sesal memang selalu tak berguna. Yang perlu saya lakukan cuma satu, fokus pada masa depan.

***

“I am responsible with my life!”

Belajar dari masa lalu, hal utama yang makin saya sadari adalah: sayalah yang bertanggung jawab terhadap masa depan saya. Bukan orang tua saya, bukan istri saya, bukan anak saya, bukan guru saya, bukan ustad saya, bukan bos saya, bukan relasi saya. Hanya saya!

Maka, dengan segenap kekuatan mental yang masih tersisa, dengan sisa kepercayaan yang masih terjaga, saya teriak, “I change!”

Saya yang harus berubah. Saya harus fokus pada apa yang perlu saya ubah di dalam diri saya. Saya tak mau fokus “mengubah orang lain”.

Bukan lingkungan saya yang harus berubah. Bukan orang tua saya yang harus berubah dan mengerti saya. Bukan istri saya yang harus mengubah sikapnya agar sesuai dengan keinginan saya. Bukan anak saya yang harus mau mengubah perangainya agar melakukan apa yang saya mau. Bukan rekan bisnis saya yang harus mati-matian saya ubah sudut pandangnya. Bukan! Sekali lagi bukan itu.

I change! Saya yang pertama sekali harus berubah.

Saya harus berani mengambil tanggungjawab terhadap sisa perjalanan hidup saya. Apakah hidup saya akan berakhir dengan hustul khatimah (akhir yang baik yang mendapat ridlo Ilahi), atau jatuh menjadi su’ul khatimah (akhir yang celaka) … saya yang harus mengambil tanggung jawab itu.

Saya lah yang bertanggung jawab! Oleh karena itu saya musti membuat perubahan. Saya musti kembali ke jalan yang benar. Jalan yang Allah ridhai.

Inilah keputusan paling penting yang mesti saya tetapkan dengan segala kandungan kekuatan maknanya!

Yuk Menjadi Manusia Baru

Yuk Menjadi Manusia Baru

Pernah menonton film Lampu Wasiat Aladin?

Kalau Aladin membutuhkan sesuatu dia tinggal menggosok lampu wasiatnya. Lalu keluarlah Jin Ifrid yang siap diperintah tuannya. Apapun perintahnya!

Dalam diri kita ada satu sosok yang juga luar biasa hebat, yang bisa mewujudkan apa saja yang kita inginkan.

Benar-benar seperti jin ifrid yang ada di kisah Lampu Wasiat Aladin. Kalau kita “pandai” memanggil “jin” ini, kita bisa menyuruhnya melakukan apa saja yang kita mau. Bahkan termasuk hal-hal yang luar biasa, yang mustahil kita bisa.

Sosok luar biasa ini ada dalam diri kita.

Dia menjaga kita sejak bayi sampai hari ini. Dia tak pernah tidur, selalu bekerja 24 jam non-stop. Dia bahkan menjaga kita saat kita sedang tidur. Dia belajar apapun yang kita ajarkan kepadanya, walau mungkin kita tak pernah merasa mengajarnya. Setiap kita mempelajari sesuatu, rekamannya ia simpan utuh, detil dan mudah dipanggil kembali oleh otak kita.

Sayangnya sosok hebat ini TAK BISA BERFIKIR. Benar-benar mirip Jin.

Ia hanya bisa menelan 100% apapun yang KITA KATAKAN padanya. Programnya otomatis. Namun sosok ini sangat patuh atas apapun perintah yang diberikan. Ia bisa melakukannya bahkan saat kita tidur, atau saat kita tak butuh lagi.

Sosok hebat itu adalah “OTAK BAWAH SADAR” kita.

Sebenarnya memakai istilah otak bawah sadar juga kurang tepat untuk menyebut nama “makhluk” ini. Namun memang istilah yang benar-benar pas masih belum bisa ditemukan. Maka para ahli untuk sementara menyebutnya otak bawah sadar. Siapa dia?

Sesungguhnya makhluk luar biasa itu sebenarnya adalah JATI-DIRI-MURNI kita.

Tapi ingat, diri kita bukanlah TUBUH FISIK kita ini. Sebab tubuh fisik ini hanyalah WADAH, hanyalah RUMAH bagi DIRI KITA YANG SEBENARNYA.

Tubuh fisik kita ini hanyalah rumah sementara dari JIWA kita, dari TUBUH RUHANI kita.

Sehingga bisa kita katakan “bawah sadar kita” itu adalah JIWA kita, DIRI ASLI kita. Ruhani kita. Ia lah yang nanti datang menghadap Allah swt setelah ia meninggalkan rumah (tubuh fisik) kita.

Dia lah yang menyimpan seluruh data rekaman diri kita, sejak usia hari pertama kita lahir, sampai detik ini. Semua rekaman itu ada padanya. Di dalam diri kita.

Jadi bukan pada “otak fisik” kita. Sebab “otak fisik” kita ini, akan kembali jadi tanah saat kita meninggalkan dunia ini. Dimana ilmu yang kita miliki selama ini? Dimana rekaman amal yang kita perbuat selama ini? Apa yang kita bawa di alam akhir nanti?

Kita semua percaya, bahwa manusia bukanlah makhluk biologis semata, dengan jaringan materi fisik yang bisa kita lihat, kita bedah, atau kita pegang ini.

Selain tubuh-materi ini, kita juga memiliki tubuh-non-materi. Itulah TUBUH-RUHANI kita.

Pada dasarnya tubuh-ruhani inilah DIRI KITA YANG SEJATI, yang nantinya “pulang” kembali kepada sang pemilik, Allah SWT.

Tubuh ruhani inilah yang menyimpan semua data ilmu amal dan sikap kita, untuk kemudian kita pertanggungjawabkan di yaumil akhir nanti. Sebagian ahli menyebutnya JIWA kita.

Tubuh ruhani ini, tersusun tentu saja bukan dari unsur-unsur “materi dunia”, melainkan dari unsur-unsur “ukhrawi”. Materi-materi yang bersifat ukhrawi. Itu sebabnya mata kita tak bisa melihatnya. Kecuali harus menggunakan “mata batin”.

Bagaimana Cara Kerja Bawah Sadar?

Mari kita bahas sedikit bagaimana cara kerja dan karakter dari “otak bawah sadar” ini.

Berdasarkan penelitian para ahli, karakter utama otak bawah sadar adalah TIDAK KRITIS. Maksudnya Input apapun yang masuk ke bawah sadar kita, 100% MASUK. 100% diterima.

Dari mana masuk input nya? Ya, semua sarana yang kita miliki dalam tubuh ini akan menjadi alat INPUT nya.

Jadi PINTU-PINTU MASUK ke otak bawah sadar kita itu meliputi antara lain: penglihatan, pendengaran, dan bahkan juga kata-kata di dalam hati kita.

Artinya apa? Artinya adalah apapun yang masuk lewat penglihatan kita, lewat pendengaran kita, semua 100% masuk (tanpa disaring) ke otak bawah sadar kita.

Jika INPUT YANG SAMA masuk berulang-ulang, maka INPUT itu akan terinstall MENJADI DIRI KITA.

Ingat: Otak bawah sadar ini tak bisa berfikir. Ia selalu membutuhkan “perintah”. Ia selalu berada dalam keadaan terprogram 24 jam sehari untuk “diperintah melakukan sesuatu”.

Jika kita tak memberi perintah yang jelas kepada otak bawah sadar, maka otak bawah sadar ini akan MENGAMBIL PERINTAH dari perasaan-perasaan yang dominan di dalam diri kita, atau mengambilnya dari kebiasaan-kebiasaan berulang yang kita lakukan.

Ambil contoh:

Jika kita sedang takut gagal, lalu perasaan takut gagal itu dominan di dalam diri kita … maka otak bawah sadar kita bakal menganggap perasaan “SAYA AKAN GAGAL” itu justru sebagai PERINTAH yang harus ia jalankan. Sebab itu maka terjadilah apa yang dikhawatirkan tsb. Yaitu Kita Gagal.

Begitu juga dengan penglihatan. Jika kita sering nonton film jorok, maka input-input dari film yang masuk ke otak bawah sadar kita itu … AKAN HIDUP … lalu suatu waktu ia akan MENGENDALIKAN JIWA KITA, tanpa bisa kita lawan lagi.

Kita juga perlu hati-hati dengan kata-kata yang sering kita ungkapkan setiap hari. Ingat, kata-kata yang kita ucapkan itu, ia akan MASUK KEMBALI ke dalam otak bawah sadar kita, ke dalam jiwa kita … lalu menjadi HIDUP dan kemudian terjadilah seperti yang kita katakan itu. Sekalipun kita mengucapkan kata-kata itu secara tidak sadar.

Contoh. Bila kita sering mengatakan secara berulang “nasibku buruk sekali”, maka jin ifrid (jiwa bawah sadar) itu akan menganggap kata-kata itulah perintah yang harus ia lakukan.

Maka terjadilah seperti itu, yaitu akan terbukti: nasibnya akan buruk sekali.

Begitu juga jika kita sering mengatakan/mengguman dalam hati: saya bodoh, saya tak berguna, saya malang, saya …. dll.

Jika kata-kata atau gumaman itu SERING kita ungkapkan maka ia PASTI TERJADI.

Persis IBARAT MANTERA. Ya … kata-kata kita adalah MANTERA DIRI KITA. Hati-hati ya …

Cara Menjadi Manusia Baru

Secara teori, mudah sekali. Caranya adalah SENANTIASA JAGA AGAR JIWA (BAWAH SADAR) KITA SELALU SEHAT.

Rumusnya sederhana:
1. MASUKKAN HANYA INPUT-INPUT POSITIF SAJA ke dalam jiwa kita
2. HINDARI INPUT-INPUT NEGATIF yg masuk ke dalam jiwa kita

Tentu saja, ini perlu perjuangan.

Misalnya, buatlah kebiasaan-kebiasaan baru. Minimal mulai dari SATU KEBIASAAN POSITIF dulu aja. Misalnya, mulai biasakan BACA BUKU POSITIF SETIAP HARI 2 MENIT SAJA.

Tapi tiap hari. Walau hanya 2 menit. Bukunya ga mesti urut. Halamannya juga ga mesti urut, acak saja. Yang penting buku-buku/bacaan yang positif.

Ingat!

Ketika kita baca satu paragraf … sesungguhnya kalimat yang kita baca itu akan TERINSTALL dalam otak bawah sadar kita. Besoknya baca kalimat positif lainnya. Terinstall lagi “data baru”. Besoknya lagi gitu juga, masuk lagi data baru. Begitu seterusnya.

Bayangkan jika itu kita lakukan TIAP HARI !!! Banyak sekali DATA BARU masuk ke dalam jiwa kita, ke dalam tubuh-ruhani kita, ke dalam otak bawah sadar kita.

Lalu ia akan MENJADI DIRI KITA!

Latihan-latihan itu akan MENGISI DATABASE JIWA atau bawah sadar kita dengan input-input baru, dengan perintah-perintah baru, sehingga insyaAllah jadilah kita akan menjadi manusia baru.

Contoh lain, sering-seringlah mengatakan dalam diri kita: itu mudah … it’s easy … gampang …. saya pasti bisa … saya pasti lulus …. saya sehat … saya ok … dll

Siap ya? Okey … silakan coba resep tsb ya.

Tipe, Ciri-Ciri dan Kriteria Menjadi Pemimpin Yang Baik & Ideal

Tipe, Ciri-Ciri dan Kriteria Menjadi Pemimpin Yang Baik & Ideal

Sebagian kita adalah pemimpin bagi sebagian yang lain.
Jika anda punya satu orang anggota saja, maka anda adalah seorang pemimpin.

Dalam bukunya yang amat terkenal, Mengembangkan Kepemimpinan Di Dalam Diri Anda, John C. Maxwell berkata, “Mengubah pemimpin berarti mengubah organisasi. Menumbuhkan pemimpin, menumbuhkan organisasi.”

Artinya? Perusahaan atau organisasi tidak akan berubah dan tidak akan berjalan ke arah yang dicita-citakan, apabila para pemimpinnya sendiri, tidak berubah dan tidak berkembang. Sebuah organisasi tidak akan berkembang di luar sampai para pemimpinnya sendiri tumbuh di dalam.

Jika seluruh unit kepemimpinan berubah secara positif, maka pertumbuhan organisasi atau perusahaan akan terjadi secara otomatis. Pemimpin yang lemah sama dengan organisasi yang lemah. Pemimpin yang kuat sama dengan organisasi yang kuat. Segala-galanya akan naik atau turun, sesuai dengan kekuatan kepemimpinan.

Kita mungkin juga setuju bahwa perbedaan antara perusahaan yang baik dengan perusahaan yang hebat juga adalah kepemimpinan. Apakah anda bersedia jadi pemimpin yang hebat?

Syaratnya, Anda harus mau berubah! Apa ada pemimpin yang menolak perubahan? Banyak …! Perlawanan terhadap perubahan adalah sesuatu yang universal sifatnya, menyerang semua kelas dan budaya. Sekalipun sudah ditunjukkan pelbagai fakta kebenaran dan bukti nyata, tetap saja banyak pemimpin yang tidak mau mengubah sikap dan pikirannya.

Maxwell mengambil sebuah kisah yang amat menarik tentang Henry Ford yang gagal memimpin dunia otomotif lantaran ia tidak mau berubah, seperti yang dilukiskan dalam biografi Robert Lacy yang laris, Ford: The Man and the Machine. Lacy mengatakan Ford adalah orang yang begitu mencintai mobil model-T yang diciptakannya sehingga ia tidak mau mengubah satu baut pun pada mobil itu. Dia bahkan mendepak William Knudsen, karena Knudsen telah mulai melihat kemerosotan mobil Model-T.

Itu terjadi tahun 1912, ketika Model-T baru berumur empat tahun dan sedang berada di puncak popularitasnya. Saat itu Ford baru saja kembali dari perjalanan pelayaran di Eropa, dan dia pergi ke garasi Highland Park, Michigan, dan melihat rancangan baru yang diciptakan Knudsen.

Para mekanik yang ada disana mencatat bagaimana Ford sesaat menjadi gelap mata. Dia memandang kilatan cat merah pada versi Model-T yang rendah yang dianggapnya sebagai versi yang buruk dari rancangan Model-T yang disayanginya. “Ford memasukkan tangan ke dalam sakunya, dan dia berjalan mengelilingi mobil tiga atau empat kali,” kata para saksi mata menceritakan.

“Itu adalah mobil empat pintu, dan atapnya diturunkan. Akhirnya, dia pergi ke sisi kiri mobil, dan dia mengeluarkan tangannya, memegang pintu, dan gubrak! Dia merenggut pintu sampai copot!

Bagaimana orang itu berbuat demikian, saya tidak tahu! Dia melompat masuk … dan gubrak! Copot pula pintu lain. Hancurlah kaca depan. Dia melompat ke tempat duduk belakang dan mulai memukul atap. Dia merobek atap dengan tumit sepatunya. Dia menghancurkan mobil sebisa-bisanya.”

Knudsen keluar dan pergi ke General Motors. Henry Ford terus memelihara Model-T. Tetapi perubahan desain dalam model pesaing membuatnya menjadi lebih kuno daripada yang diakuinya. Kendati General Motor mengancam akan mendahului Ford, sang pencipta tetap menginginkan kehidupan membeku di tempatnya.

Contoh berikut pun cukup menarik. Selama berabad-abad orang percaya bahawa Aristoteles benar dengan teorinya: bahwa semakin berat suatu benda, semakin cepat benda itu jatuh ke tanah. Pada waktu itu Aristoteles dipandang sebagai pemikir terbesar sepanjang zaman dan karena itu tentu saja dia tidak mungkin salah. Padahal yang diperlukan hanyalah seorang yang berani untuk mengambil dua buah benda, yang satu berat dan lain ringan, lalu menjatuhkannya dari ketinggian yang cukup untuk melihat apakah memang benda yang berat memang jatuh lebih dahulu atau tidak. Tetapi waktu itu tidak ada orang yang tampil ke depan sampai hampir 2000 tahun selepas kematiannya.

Pada tahun 1589, Galileo Galileimemanggil para professor yang terpelajar ke landasan Menara Miring Pisa. Kemudian dia naik ke puncak dan mendorong jatuh dua buah beban, yang satu seberat sepuluh pon dan yang lain satu pon. Hasilnya, kedua-duanya ternyata mendarat pada masa yang sama!

Apa kata para professor? Karena mereka tetap yakin dengan kekuatan kebijaksanaan konvensional yang demikian kukuh bersemayam dalam diri mereka, para professor itu tetap menyangkal apa yang mereka lihat. Mereka tetap mengatakan bahawa Aristoteles lah yang benar, lalu mereka melemparkan Galileo ke penjara yang kemudian melewatkan sisa hidupnya sebagai tahanan rumah.

Persoalannya, masih adakah sesuatu yang begitu kuat anda yakini sehingga sekalipun sudah berulang kali diperlihatkan fakta-fakta betapa pentingnya kita akan berubah, tetap saja anda tidak mau berubah?

Karena itulah, Howard Hendrick, dalam Teaching to Change Lives mengingatkan: Kalau anda ingin terus memimpin, maka anda perlu berubah. Begitu para pemimpin secara pribadi mau berubah dan mulai melakukannya, maka segala sesuatu yang berada dalam tanggungjawabnya pasti akan berubah. Para pemimpin adalah motor perubahan, dan karena itu ia harus berada di depan untuk menggerakkan perubahan dan menggalakkan pertumbuhan serta menunjukkan jalan untuk mencapainya.

Tapi kadang-kadang ada pula sebahagian pemimpin kita yang mungkin berkelakuan seperti Lucy dalam kartun “Peanuts”. Sambil menyandar ke pagar ia berkata pada Charlie Brown, “Saya ingin mengubah dunia.” Charlie bertanya, “Dari mana kamu akan memulainya?” Lucy menjawab, “Saya akan mulai dengan kamu!”

Para pemimpin yang ada di seluruh bagian perusahaan, dimanapun ia berada, harus mampu menjadi motor perubahan. “Mereka perlu lebih menjadi termostat daripada termometer,” kata Maxwell, dalam bukunya Mengembangkan Kepemimpinan Di Sekeliling Anda.

Apa beda termostat dengan termometer?

Kedua-dua alat ini memang sama-sama bisa mengukur panas, tapi ada bedanya. Termometer bersifat pasif. Ia hanya mencatat suhu lingkungan tetapi tidak dapat melakukan apa-apa untuk mengubah lingkungan. Termostat adalah alat yang aktif. Alat ini mampu menentukan akan menjadi apa sebuah lingkungan. Termostat mempengaruhi perubahan supaya dapat mewujudkan iklim. Pemimpin yang baik, mampu menjadi motor perubahan yang mewujudkan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan cita-cita perusahaan.

Perubahan Apa?

John C. Maxwell dalam buku “The Winning Attitude” menggambarkan, “orang berubah apabila mereka cukup sakit sehingga terpaksa harus berubah; cukup belajar sehingga ingin berubah; cukup menerima sehingga mereka bisa berubah.”

Karena itu para pemimpin perlu mengenali siapa-siapa saja orang-orangnya yang berada dalam salah satu daripada tiga peringkat ini. Sedangkan para pemimpin puncak akan mewujudkan suasana yang menyebabkan salah satu dari tiga hal ini terjadi.

Apa yang pertama dan utama sekali perlu diubah oleh para pemimpin, sehingga ia mampu menciptakan suasana yang akan mendorong orang lain ikut berubah?

Maxwell, mengajarkan:

Pertama, pemimpin harus mengembangkan kepercayaan dengan orang lain. Kalau anggota tim percaya kepada pemimpin, itu sudah lumayan hebat. Akan tetapi jauh lebih hebat lagi jika justru pemimpin yang percaya kepada para anggotanya. Bila ini benar-benar terjadi, kepercayaan adalah hasilnya, maka semua pun akan mengikuti.

Abraham Lincoln berkata, “Kalau anda ingin merebut hati seseorang agar menyokong perjuangan anda, mula-mula yakinkan dia bahwa anda adalah sahabatnya yang sejati. Lalu selidikilah apa yang ingin dicapainya.” Ujian praktis bagi seorang pemimpin adalah pertanyaan: Bagaimana hubungan anda dengan para pengikut anda? Kalau hubungannya positif, maka pemimpin itu telah siap untuk mengambil langkah-langkah seterusnya.”

Kedua, pemimpin perlu membuat perubahan pribadi pada dirinya sendiri, sebelum meminta orang lain berubah. Para pemimpin yang sukses bukan hanya mengatakan apa yang harus dilakukan, mereka memperlihatkan! Orang meniru apa yang mereka lihat dari sang pemimpin. Apa yang dihargainya akan dihargai pula oleh anak buahnya. Tujuan pemimpin menjadi tujuan mereka.

Lee Iacocca berkata, “Kecepatan bos adalah kecepatan tim..”

Kita perlu ingat bahwa kalau orang mengikuti kita, mereka hanya dapat pergi sejauh kita pergi. Kalau pertumbuhan kita berhenti, kemampuan kita untuk memimpin pun akan berhenti. Sebab itu mulailah belajar dan berkembang sejak hari ini, maka lihatlah mereka yang ada di sekeliling anda, mereka pun ternyata akan tumbuh dan berubah.

Ambil contoh saja, mulailah menghilangkan sikap takut mengatakan hal-hal yang tidak ingin didengar oleh atasan anda. Sebagai pemimpin anda harus melaporkan dan menyampaikan apa yang perlu anda laporkan, bukan apa yang sebaiknya dilaporkan. Lalu rangsanglah anggota organisasi anda untuk berani pula menyampaikan apa yang perlu anda dengar, bukan apa yang ingin anda dengar.

Ketiga, perlihatkan kepada tim anda bagaimana perubahan itu sebenarnya akan sangat menguntungkan bagi mereka. Sebab perubahan yang sedang kita lakukan saat ini adalah jalan terbaik bagi seluruh pihak, demi masa depan semua orang, bukan bagi anda sebagai pimpinannya. Kepentingan orang banyak itulah yang harus didahulukan.

Keempat, beri mereka andil pemilikan atas perubahan itu. Kalau orang kurang ikut mempunyai suatu gagasan, mereka biasa menentangnya, bahkan seandainya pun gagasan itu sebetulnya untuk kepentingan mereka yang terbaik! Pemimpin yang bijaksana memungkinkan pengikut memberikan masukan dan menjadi bahagian dari proses perubahan. Tanpa rasa-memiliki ini, perubahan hanya akan berjangka pendek.

Mengubah tabiat dan cara berfikir orang banyak seperti menulis perintah di atas salju dalam badai. Setiap duapuluh menit perintah harus ditulis kembali, kecuali kalau kepemilikan diberikan bersama dengan perintah.

Sebab itu, Trusell dalam Helping Employees Cope with Change: A Manager’s GuideBook berkata, “Tunjukkan kepada orang lain bagaimana perubahan akan menguntungkan mereka. Mintalah mereka untuk berperan serta dalam semua tahap proses perubahan. Bersikaplah lentur, terbuka dan bisa menyesuaikan diri sepanjang proses perubahan. Akuilah kesalahan dan buatlah perubahan kalau sesuai dengan keadaan. Doronglah setiap anggota tim untuk membicarakan perubahan. Mintalah pertanyaan, komentar dan umpan balik mereka. Tunjukkan keyakinan anda atas kemampuan mereka untuk melaksanakan perubahan. Akhirnya jangan lupa berilah selalu antusiasme, bantuan, penghargaan, dan pengakuan kepada mereka yang melaksanakan perubahan.”

____________________________________
penulis: Nilna Iqbal, founder SekolahMenulis.com