Pemimpin Sebagai Wakil Tuhan di Muka Bumi

Pemimpin Sebagai Wakil Tuhan di Muka Bumi

Pesan Rasulullah untuk Para Pemimpin

KH Miftah Faridl
Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Dewan Pembina Sinergi Foundation, Twitter @miftahfaridl_ID
DI antara perubahan penting menyangkut proses suksesi kepemimpinan di Indonesia sejak reformasi tahun 1998, adalah semakin meningkatnya partisipasi politik masyarakat. Pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung. Ini berarti telah terjadi peningkatan signifikan frekuensi keterlibatan masyarakat dalam proses politik. Padahal, dalam banyak hal, tidak sedikit masyarakat yang belum memahami hakikat kepemimpinan bagi kepentingan hidup masyarakatnya. Tak heran jika di sana-sini ditemukan berbagai ketimpangan sebagai akibat langsung ataupun tidak langsung dari proses politik yang dilaluinya. Di beberapa daerah bahkan pilkada berujung konflik yang sangat merugikan.

Masyarakat, sejatinya tahu dan paham posisi dan arti penting kepemimpinan. Bagi seorang Muslim, kepemimpinan merupakan tema penting dan krusial yang bukan saja berkaitan dengan dimensi sosial, tapi juga teologis. Konsep kepemimpinan dalam Islam dirumuskan dan diwujudkan berdasarkan doktrin kekhalifahan. Petunjuk Alquran (QS Al Baqarah: 30) menyatakan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi, antara lain, mengisyaratkan salah satu fungsi manusia sebagai pemimpin.

Dalam terminologi keislaman, pemimpin biasa juga disebut sebagai khalifah, amir atau sulthon (sultan), yang berperan sebagai pemimpin sekaligus pemelihara alam semesta, dan bukan hanya alam manusia (rahmatan lil alamin). Manusia mendapat kehormatan sebagai wakil Tuhan di muka bumi, yang atas dasar kehormatan itulah ia harus melindungi alam semesta, bukan sebaliknya malah merusak atau melakukan eksploitasi kekayaan di dalamnya. Bahkan, kerusakan-kerusakan di alam semesta yang diakibatkan oleh tangan-tangan manusia pada dasarnya hanya akan membuat manusia sendiri menderita.

Berkaitan dengan urgensi kepemimpinan, Islam dengan tegas menekankan pentingnya pemimpin, dan masyarakat Islam perlu punya pemimpin. Ajaran Islam juga menggarisbawahi pentingnya seorang Muslim untuk berusaha memiliki kemampuan memimpin, sebab dakwah amar maruf nahi munkar yang menjadi salah satu tugas yang diembannya paling efektif dilakukan melalui kekuasaan. Pemimpin yang baik mendapatkan penghargaan dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Sebaliknya pemimpin yang tidak baik mendapat laknat dan kutukan dari Allah.

Lalu, apa yang sebaiknya diperhatikan oleh seorang pemimpin dan masyarakat yang dipimpinnya? Ada sejumlah pesan moral dari Rasulullah Saw yang penting untuk direnungkan oleh mereka yang mendapat amanah sebagai pemimpin dan bagi mereka yang ingin jadi pemimpin.

Pertama, kepemimpinan pada dasarnya merupakan amanah. Kepada sahabat Abu Dzarrin, Rasulullah Saw menyampaikan pesan: “Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah suatu amanah, dan di hari kiamat akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan kecuali mereka yang mengambilnya dengan cara yang baik serta dapat memenuhi kewajibannya sebagai pemimpin dengan baik” (HR Muslim).

Kedua, amanah ini harus diserahkan kepada ahlinya, atau kepada orang-orang yang layak untuk diangkat sebagai pemimpin. Kepemimpinan bukanlah barang dagangan yang dapat diperjualbelikan. Karena itu, pada prosesnya, seorang calon pemimpin tidak dibeli oleh mereka yang menghendakinya, ataupun membeli dukungan dengan mengharap kemenangan. Rasulullah SAW bersabda: “Tunggu saat kehancurannya, apabila amanat itu disia-siakan. Para sahabat serentak bertanya, ‘Ya Rasulullah apa yang dimaksud menyia-nyiakan amanah itu?’ Nabi Saw bersabda: Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah tanggal kehancurannya.” (HR Bukhari).

Ketiga, adanya hubungan cinta kasih antara pemimpin dan yang dipimpin. Hubungan cinta kasih yang hakiki. Rasulullah SAW bersabda “Sebaik-baiknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun mencintamu; kamu menghormati mereka dan merekapun menghormati kamu. Pun sejelek-jeleknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun benci kepada kamu. Kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknatmu.” (HR Muslim).

BACA JUGA:  Perkembangan Paradigma Kepemimpinan: Gaya, Tipologi, Model dan Teori Kepemimpinan

Prinsip kepemimpinan di atas mengisyaratkan keharusan umat Islam untuk memilih pemimpin yang dapat membimbing kehidupannya. Secara teologis ayat-ayat Alquran menegaskan agar sesama Muslim hanya memilih pemimpin dari kalangan mereka sendiri. Karena kepemimpinan diyakini sebagai suatu prinsip yang harus ditegakkan dalam masyarakat. Seorang Muslim sesuai dengan kapasitas dan keilmuan dan sosialnya memiliki hak yang sama untuk menjadi pemimpin. Ia bisa memilih sekaligus dipilih.

Tarik-menarik antara hak dan kewajiban inilah yang kemudian Islam memberikan petunjuk bagaimana sebaiknya Muslim memilih pemimpin. Beberapa isyarat Rasulullah mengatakan, “Barangsiapa yang mengangkat seseorang untuk mengurus urusan Mukmin padahal ia tahu ada orang yang lebih pantas untuk mengurus itu, maka berarti ia telah berkhianat kepada Allah, khianat kepada Rasulullah, dan khianat terhadap orang Mukmin.” (HR Hakim).

Begitu pentingnya seorang pemimpin bagi komunitas Muslim, ajaran Islam mengatur secara khusus urusan ini. Seorang Muslim tidak seharusnya menyia-nyiakan urusan yang termasuk pada wilayah politik ini, meskipun tidak pula harus menjadikan proses sebagai sesuatu yang segala-galanya. Pastikan bahwa pemimpin yang dipilih adalah mereka yang adil atau yang paling berpotensi untuk berbuat adil. Ingat pesan Rasulullah SAW, “Bahwa orang yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan orang yang terdekat dengan-Nya ialah pemimpin yang adil; sedangkan orang yang paling jauh dengan-Nya adalah pemimpin yang jahat.” (HR Tirmidzi).

Tidak mudah memang menentukan potensi keadilan dalam diri seorang pemimpin. Tapi paling tidak mereka adalah individu yang paling diduga kuat memiliki pengetahuan dan komitmen yang tinggi pada agama dan pengetahuan agamanya. Dia adalah individu yang sejak dini berada di komunitas beragama, tapi dia juga adalah orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai dalam urusan kepemimpinan yang akan dihadapinya.

Namun demikian, pada praktiknya dalam kehidupan bermasyarakat, faktor-faktor lingkungan budaya ternyata amat mempengaruhi pola penjaringan seorang pemimpin. Sehingga antara satu daerah dengan yang lain kerap memiliki satu formula kepemimpinan yang berbeda.

Alquran mengilustrasikan hubungan pemimpin dengan masyarakat yang dipimpinnya sebagai suatu sistem yang saling mempengaruhi. Sistem itu sendiri adalah kumpulan komponen-komponen yang berada pada alur yang sama. Dalam Alquran, digambarkan seorang pemimpin yang baik diperuntukan bagi masyarakat yang baik pula. Atau dengan perkataan lain, suatu masyarakat yang baik hanya dapat dipimpin dan hanya membutuhkan seorang pemimpin yang baik pula.

Pada dasarnya, umat mesti taat kepada pemimpin. Namun, keharusan taat ini, tidak berarti masyarakat kehilangan fungsi kontrol. Terlepas dari apakah pengontrolan itu terlembaga atau tidak. Islam tetap mengisyaratkan setiap individu untuk melakukan kontrol terhadap berbagai kemungkaran, termasuk yang dilakukan oleh pemimpinnya.

Abu Darda RA pernah berkata, “Telah memberi amanat kepada kami, Rasulullah SAW, bahwa yang aku takuti atas kamu adalah pemimpin yang menyesatkan.” (HR Ahmad).

Karena itu, dengan merenungkan hikmah dan pesan-pesan moral seperti yang tertuang dalam hadits-hadits tersebut, ketika seseorang mendapat peluang untuk menjadi pemimpin, sambutlah amanah kepemimpinan itu dengan tetap menyebut nama-Nya; Bismillah atau alhamdulillah, atau subhanallah, atau astaghfirullah, atau bahkan innalillahi wa inna ilahi rajiun.***
___________________________________________
http://www.pikiran-rakyat.com/kolom/2017/01/19/pesan-rasulullah-untuk-para-pemimpin-391165

Tanggapan :

mautic is open source marketing automation