Dari laut Indonesia kita mungkin mendapatkan benteng penangkal virus corona


Petugas kesehatan menyiapkan vaksin COVID-19 dosis ketiga yang akan disuntikkan kepada warga saat pelaksanaan vaksinasi COVID-19 Booster di Denpasar, Bali, 12 Januari 2022.
ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/YU

Andri Frediansyah, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Pandemi COVID-19 yang belum usai setelah dua tahun memicu para peneliti di seluruh dunia berlomba-lomba menemukan obat yang ampuh menjadi penawar atas penyakit ini —- baik dari sumber baru maupun dari obat yang sudah ada.

Saat ini, ada dua obat yang menjadi calon utama: molnupiravir (produksi Merck dan mitra Ridgeback Therapeutics), dan Paxlovid dari Pfizer.

Kedua calon obat itu masih perlu mendapat pengesahan dari Food and Drug Administration Amerika Serikat sebelum dapat digunakan secara meluas. Hingga saat itu tiba, kita perlu senantiasa menangkal virus dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjauhi kerumunan serta memperluas cakupan vaksinasi .

Tapi bagaimana jika ada pertahanan ekstra menangkal virus corona, namun tidak menghasilkan tumpukan sampah seperti masker? Bagaimana jika benteng pertahanan virus corona itu melimpah keberadaannya di laut Indonesia?

Rumput laut dan karagenan

Indonesia adalah negara penghasil rumput laut merah (Rhodophyceae) terbesar di dunia, berkat faktor iklim, ketersediaan unsur hara, dan kondisi geografis yang kita punya.

Pada lapisan terluar rumput laut merah inilah terdapat bahan aktif bernama karagenan. Bahan ini dikenal di dunia pangan terutama sebagai bahan pembuat agar-agar, bahan pengemulsi, penstabil, pengental, dan agen pembentuk gel.

Tapi tak hanya enak dimakan, karagenan juga terbukti ampuh mencegah infeksi pernafasan manusia oleh virus termasuk influenza. Ini telah dibuktikan oleh uji klinis pada 2013-2015 yang dilakukan perusahaan farmasi Boehringer Ingelheim, asal Jerman.

Selain itu, tiga penelitian lain juga menunjukkan bahwa karagenan jenis iota (tipe karagenan dengan dua molekul sulfat) dari rumput laut efektif menghambat dan menetralkan infeksi yang disebabkan oleh virus corona.

Ketiga penelitian itu masing-masing dilakukan oleh Marinomed Biotech AG di Austria, Amcyte Pharma di AS, dan Ulm University Medical Center di Jerman.

Efektivitas karagenan menghambat SARS-CoV-2

Saya mengkaji kemampuan dan efektivitas karagenan dalam menghambat virus corona, dari berbagai penelitian terbaru. Hasil kajian ini sudah terbit dalam jurnal Clinical Epidemiology and Global Health edisi Oktober 2021.

Pada level uji in vitro (sel uji di laboratorium), Prieschl-Grassauer dan timnya menemukan bahwa pada konsentrasi 1,54 mikrogram per mililiter, karagenan jenis iota mampu menghambat 50 persen perkembangan virus korona pada sel kera hijau Afrika. Riset belum diujicobakan pada manusia.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Secara ilmiah, singkatnya, muatan positif pada mantel glikoprotein tipe S yang menyelubungi virus corona akan dinetralkan oleh muatan negatif dari karagenan jenis iota.

Dengan demikian, virus korona tidak dapat berikatan dengan reseptor ACE-2 di hidung alias “gerbang” masuknya virus ke dalam sel-sel tubuh. Sehingga proses infeksi virus corona melalui saluran pernafasan dapat digagalkan.

Pada tingkat pengujian yang lebih tinggi, sejak tahun lalu karagenan jenis iota telah memasuki tahapan uji klinis sebagai antivirus corona.

Tahun ini, Argentina telah melakukan uji klinis terhadap cairan semprot (spray) berisi karagenan jenis iota untuk rongga pernafasan yang dikombinasikan dengan obat oral ivermectin. Hasilnya, kombinasi keduanya dapat menurunkan jumlah infeksi virus corona pada tenaga kesehatan di Argentina, bahkan tanpa efek samping.

Uji klinis lain terkait keampuhan cairan spray karagenan jenis iota tanpa kombinasi dengan obat oral lain saat ini sedang dilakukan di berbagai negara. Beberapa di antaranya adalah di Inggris yang disponsori oleh Universitas Swansea, Austria oleh Marinomed Biotech AG, dan Argentina oleh Centro de Educación Medica e Investigaciones Clínicas Norberto Quirno.

Bahkan produk serupa telah dipasarkan di Eropa, Kanada, Australia dan beberapa negara di Asia dalam bentuk cairan spray bermerek Carragelose® dengan klaim sebagai pencegah infeksi virus pernafasan.

Tak hanya itu, produk mengandung karagenan tersebut juga dapat membentuk lapisan pelembab pada rongga hidung sehingga dapat membantu menyembuhkan permukaan mukosa yang rusak dan mengurangi gejala infeksi pada hidung.

Perlu riset dan pengembangan

Sudah saatnya pemerintah mendorong riset dan pengembangan untuk mendorong produksi karagenan jenis iota dari rumput laut merah dari perairan sendiri.

Karagenan dapat ditemukan pada hampir semua anggota rumput laut merah termasuk spesies Gigartina sp., Hypnea sp., Euchema sp., Kappaphycus sp., dan Chondrus sp.

Indonesia punya perairan yang melimpah dengan rumput laut merah, yang mudah didapatkan sepanjang tahun pada kedalaman 2-15 meter. Beberapa spesies rumput laut merah telah dibudidayakan di perairan Sulawesi dan Bali.

Cairan semprot karagenan jenis iota memang tidak bisa membunuh virus vorona yang telanjur menginfeksi tubuh. Tapi ia dapat menjadi benteng pertahanan kedua setelah masker. Penggunaannya pun dapat dilakukan bersamaan dengan obat oral yang direkomendasikan dokter.

Upaya memproduksi benteng penangkal virus corona dari laut sendiri tidak hanya bermanfaat bagi kemandirian bangsa, tapi juga dapat mengurangi timbunan sampah masker.The Conversation

Andri Frediansyah, Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Tinggalkan Balasan

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.

Continue Shopping