Dari Tarantino hingga Squid Game: mengapa adegan kekerasan amat dinikmati banyak orang?


Apakah itu masokisme?

Simon McCarthy-Jones, Trinity College Dublin

Pada Oktober 2021, lebih dari 100 juta orang menyaksikan film penuh darah Squid Game di Netflix.

Pembahasan mengenai dampak buruk atas kekerasan yang dimunculkan di layar bagi kita semua telah dipelajari secara luas. Konsesus publik menganggap tontonan semacam ini berdampak negatif. Tapi, pertanyaan mengenai mengapa kita gemar menyaksikan adegan kekerasan di suatu layar belum mendapatkan perhatian lebih.

Kematian, darah, dan kekerasan selalu menarik perhatian. Warga Romawi Kuno berbondong-bondong menghadiri pembantaian di Colosseum. Beberapa abad setelahnya, eksekusi publik menjadi box-office.

Di era modern, sutradara Quentin Tarantino meyakini bahwa “Dalam perfilman, kekerasan itu keren. Saya menyukainya.”

Banyak dari kita tampaknya setuju dengannya.

Sebuah studi menemukan sekitar 90% film yang berpendapatan tinggi menampilkan adegan karakter utama yang terlibat dalam kekerasan.

Kebanyakan orang Amerika Serikat (AS) pun menikmati film horor dan menontonnya beberapa kali dalam setahun.

Siapa penonton adegan kekerasan?

Beberapa orang memang cenderung menyukai adegan kekerasan yang ditampilkan dalam media. Misalnya, populasi lelaki yang agresif dan memiliki sedikit empati, cenderung dapat menikmati adegan kekerasan.

Ada juga ciri-ciri kepribadian tertentu yang memang menyukai kekerasan. Seorang ekstrovert, yang mencari kesenangan, maupun orang yang lebih terbuka terhadap pengalaman estetik juga lebih suka menonton film kekerasan.

Sebaliknya, orang-orang dengan tingkat keramahan yang tinggi – memiliki kerendahan hati dan simpati terhadap orang lain – cenderung kurang menyukai adegan kekerasan.

Kenapa kecenderungan itu terjadi?

Ada satu teori yang menyebutkan bahwa menonton kekerasan adalah suatu bentuk katarsis, menguras kelebihan agresif kita. Tapi gagasan ini tidak didukung oleh bukti yang sahih.

Ketika seseorang yang sedang marah menonton konten kekerasan, mereka malah cenderung semakin marah.

Penelitian terbaru yang mempelajari film horor menunjukkan kemungkinan ada tiga kategori orang yang menikmati menonton kekerasan. Masing-masing memiliki alasan tersendiri.

Satu kelompok dijuluki sebagai “pecandu adrenalin”. Para pencari sensasi ini menginginkan pengalaman baru dan intens, dan kerap mendapat kepuasan dari menonton kekerasan. Bagian dari kelompok ini mungkin adalah orang-orang yang suka melihat orang lain menderita. Para orang-orang sadis yang senang merasakan penderitaan orang lain lebih dari biasanya, dan menikmatinya.

Kelompok lain menikmati pertunjukan kekerasan karena mereka merasa mempelajari sesuatu dari tontonan itu. Dalam penelitian horror, orang-orang semacam itu disebut sebagai “white knucklers”.

Seperti para pecandu adrenalin, mereka merasakan emosi yang kuat dari menonton film horor. Tapi, mereka tidak menyukai emosi tersebut. Perasaan itu bisa ditoleransi karena adegan tersebut membantu mereka belajar sesuatu perihal bertahan hidup.

Nah, sensasi itu juga terkait masokisme jinak: kenikmatan akan pengalaman yang menyakitkan dan tidak menyenangkan – namun masih aman. Jika kita dapat menoleransi beberapa rasa sakit, kita mungkin akan mendapatkan sesuatu. Senada dengan bagaima komedi yang “cringe” dapat mengajari kita keterampilan sosial, menonton kekerasan dapat mengajari kita keterampilan bertahan hidup.

Kelompok terakhir tampaknya mendapatkan kedua manfaat tersebut. Mereka menikmati sensasi sekaligus mempelajari sesuatu dari adegan kekerasan. Dalam genre horor, orang-orang seperti itu disebut “dark copers”.

Gagasan bahwa orang-orang senang menonton kekerasan ‘yang aman’ di suatu layar karena dapat mengajari mereka sesuatu disebut “teori simulasi ancaman”. Hal ini berdasarkan pengamatan bahwa orang-orang yang nampak tertarik menonton kekerasan (orang-orang muda yang agresif) juga kemungkinan besar akan menghadapi atau menyebarkan kekerasan tersebut.

A scene from Squid Game.
Adegan dari Squid Game: permainan lampu merah, lampu hijau.
Netflix

Menyaksikan kekerasan dari sofa yang nyaman bisa jadi merupakan langkah persiapan diri kita menghadapi dunia yang penuh kekerasan dan berbahaya. Kekerasan, dengan begitu, menjadi menarik untuk alasan yang baik.

Menariknya, sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa penggemar horor dan adegan-adegan mengerikan lebih tangguh secara psikologis selama pandemi COVID-19.

Apakah ini benar-benar kekerasan yang kita sukai?

Ada sejumlah alasan untuk mempertimbangkan kembali: apakah kita benar-benar menyukai kekerasan?

Misalnya, sebuah penelitian mengkaji tayangan film The Fugitive – yang dirilis pada 1993 – kepada dua kelompok. Satu kelompok diperlihatkan film yang belum diedit, sementara yang lain melihat versi yang telah diedit.

Ternyata, kedua kelompok sama-sama menyukai film tersebut.

Temuan ini didukung oleh penelitian lain yang juga menemukan bahwa penghapusan adegan kekerasan tidak mengurangi tingkat kesukaan seseorang terhadap suatu film. Bahkan ada bukti bahwa orang lebih menikmati film tanpa adegan kekerasan dibanding film dengan adegan kekerasan.

Banyak orang mungkin menikmati sesuatu yang terkait dengan kekerasan, ketimbang kekerasan itu sendiri. Misalnya, kekerasan menciptakan ketegangan dan kekhawatiran. Kedua hal tersebut yang bisa jadi membuat sebagian orang tertarik.

Kemungkinan lain adalah orang-orang cenderung menikmati film laga dan bukan tayangan kekerasan.

Menonton adegan kekerasan juga dapat memicu pembuatan makna dalam proses pencarian makna dalam hidup kita. Menyaksikan tayangan kekerasan juga memungkinkan kita untuk merefleksikan kondisi manusia, sebuah pengalaman yang kita hargai.

Ada juga “teori pengalihan keseruan” yang menunjukkan bahwa menonton adegan kekerasan membuat kita bergairah, perasaan yang bertahan sampai akhir pertunjukan, sehingga terasa lebih menyenangkan.

Sementara, “hipotesis buah terlarang” menganggap, karena kekerasan dianggap terlarang, menontonnya menjadi hal yang mengasyikkan. Buktinya, label peringatan film justru meningkatkan minat orang menyaksikan adegan kekerasan.

Akhirnya, mungkin yang dinikmati adalah menyaksikan karakter jahat mendapat hukuman yang pantas, bukan kekerasannya itu sendiri. Memang, setiap kali orang memberikan hukuman pada pelaku kesalahan, pusat kepuasan di bagian otak mereka menyala meriah.

Meski demikian, kurang dari setengah kekerasan muncul di TV melibatkan tokoh baik melakukan kekerasan pada tokoh jahat.

Motif politik?

Sejumlah teori di atas menunjukkan bahwa industri media mungkin menampilkan adegan kekerasan yang sebenarnya tidak diinginkan atau dibutuhkan oleh mayoritas kita.

Karena itu, kita mesti pula meninjau: apa ada tekanan korporat, politik, atau ideologis yang mungkin mendorong mereka untuk memunculkan tayangan kekerasan di layar secara global?

Misalnya, pemerintah AS memiliki kepentingan dan pengaruh yang signifikan atas Hollywood.

Gambaran-gambaran kekerasan dapat mendorong kuta menyetujui kebijakan pemerintah, sekaligus mendorong kita untuk mendukung legitimasi kekuasaan dan kekerasan oleh negara.

Adegan-adegan itu pun dapat menggiring kita untuk menentukan siapakah kelompok yang layak menjadi “korban”.

Patut dicatat, pesan-pesan yang disampaikan melalui kekerasan di layar dapat membuat kita terputus dengan kenyataan. Ketika angka kriminalitas menurun, adegan kekerasan di layar justru dapat membuat kita berpikir bahwa kejahatan semakin meningkat.

Film-film juga berbohong. Hampir 90% tindakan kekerasan dalam film tidak menunjukkan dampak fisik yang realistis bagi korban. Film pun mampu menyamarkan realitas kekerasan laki-laki terhadap perempuan dan anak-anak.

Pakar politik AS, Samuel Huntington pernah menulis: “Negara-negara Barat memenangkan dunia bukan dengan keunggulan ide-idenya … melainkan dengan keunggulannya dalam menerapkan kekerasan terorganisir. Orang Barat sering melupakan fakta bahwa orang non-Barat tidak pernah melakukannya.”

Kita harus selalu menyadari bagaimana adegan kekerasan pura-pura di layar justru menimbulkan kekerasan di dunia nyata.


Rachel Noorajavi menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.The Conversation

Simon McCarthy-Jones, Associate Professor in Clinical Psychology and Neuropsychology, Trinity College Dublin

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Tinggalkan Balasan

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.

Continue Shopping