Jika ekonom legendaris Keynes masih hidup, akankah ia membeli Bitcoin?


shutterstock.

John Hawkins, University of Canberra dan Selwyn Cornish, Australian National University

John Maynard Keynes (1883-1946) adalah ekonom paling terkemuka sepanjang abad 20. Namun, banyak yang belum tahu bahwa ia memiliki karir paralel sebagai seorang investor. Sebagai penanam modal, Keynes cukup sukses pada awal karirnya dan luar biasa berhasil pada kemudian hari ketika ia mengubah strateginya.

Setelah Perang Dunia I, Keynes lebih bergantung pada hasil investasinya ketimbang karir akademisnya.

Di samping investasi pribadinya, Keynes juga turut menangani investasi di King’s College, Cambridge.

Di bawah kepengurusannya, dana yang dimiliki King’s College meroket hingga 12 kali lipat, dan ini terjadi ketika aktivitas pasar secara luas bahkan gagal bertumbuh ganda.

Konon, Keynes berhasil mengantongi imbal hasil yang tinggi ini dengan hanya mengalokasikan waktu setengah jam tiap pagi untuk mengurus investasi, sebelum ia turun dari tempat tidur.

Menurut rekan-rekannya, Keynes kerap mengutip sebaris bait dari Volpone, sebuah puisi klasik:

Aku lebih bangga terhadap pembelian cerdik untuk kekayaanku daripada kepemilikan itu sendiri.

Ia memang tampaknya jauh lebih menghargai kecerdasannya untuk menghasilkan uang daripada uang itu sendiri.

Bagi Keynes, strategi investasi adalah alternatif dari seni bagi mereka yang tidak memiliki bakat untuk menghasilkan karya.

Keynes pada masa muda

Sebagai pemuda, Keynes memiliki kepercayaan diri yang tinggi mengenai keahliannya. Sebaliknya, ia meragukan kemampuan berinvestasi masyarakat pada umumnya.

Pada awal karirnya sebagai investor, ia mencoba memanfaatkan momentum pasar dan memastikan dirinya selangkah di depan investor lainnya.

Jika dibandingkan dengan masyarakat luas pada kala itu, Keynes muda lebih tertarik untuk berinvestasi di instrumen saham daripada obligasi.

Ia juga turut berspekulasi pada nilai tukar dan harga komoditas.

Berkebalikan dengan preferensi investor pada masa tersebut, Keynes berani untuk berinvestasi di luar negeri dan menggemari surat utang pemerintah Australia.

Di antara portofolionya adalah karya seni modern. Sebagian merupakan karya teman-temannya sendiri, namun – berdasarkan catatan yang ia simpan mengenai valuasi karya-karya tersebut – sebagian lagi memang ditujukan untuk investasi.

Keynes mengumpulkan karya seni senilai ₤13.000 (sekitar Rp 252 juta), yang divaluasi menjadi ₤76 juta pada 2019.

Lukisan Paul Cézanne (1877) yang dibeli Keynes pada 1918.
Fitzwilliam Museum

Penilaian artistik Keynes menghasilkan imbal hasil nyata tahunan sebesar 6%, sepadan dengan nilai yang bisa ia dapatkan dari investasi saham. Namun, investasi karya seni memberikan apa yang tidak bisa ia peroleh dari saham – yaitu apa yang disebut oleh Bloomsbury Group, kelompok artistik dan literasi tempat Keynes bergabung sebagai anggota, sebagai “kenikmatan akan objek keindahan”.

Keynes pada masa mudanya bisa dipastikan akan berinvestasi pada Bitcoin, dengan kepercayaan bahwa ia dapat membelinya sebelum tren pada instrumen ini memuncak dan menjualnya pada momentum yang tepat.

Akan tetapi, formula ini tidak selalu berhasil, bahkan untuk ekonom dan investor sekaliber Keynes sekalipun.

Keynes yang lebih tua dan bijak

Keynes yang sudah lebih tua beralih pada investasi nilai. Ia secara hati-hati memilih dan menahan saham yang menawarkan prospek imbal hasil jangka panjang. Strategi ini terbukti jauh lebih sukses.

Pada hari tuanya, Keynes melihat investasi siklis sebagai sesuatu yang tidak dapat dipraktikkan dan menyatakan bagaimana mereka yang menerapkan strategi ini “terlambat membeli dan menjual” investasinya.

Ia menulis bagaimana investor siklis terlalu fokus pada kenaikan modal dan mengenyampingkan baik “hasil langsung” atau pada “prospek masa depan dan nilai intrinsik”.

Warren Buffett, salah seorang investor tersukses saat ini, menuliskan kekagumannya pada kebrilianan Keynes dan meniru gaya investasinya.

Beberapa saat sebelum kematiannya, Keynes memperingatkan bahayanya investor untuk sekadar ikut-ikutan tren. Ia menyatakan

jika semua orang sepakat akan manfaatnya, investasi tersebut akan menjadi sangat mahal dan karenanya menjadi tidak menarik.

Pada era kejayaannya, Keynes menghindari bertaruh pada produk investasi yang tidak memiliki nilai fundamental.

Tidak hanya itu, ia juga menyatakan kekhawatiran terhadap model investasi ini dengan alasan yang lebih penting. Seperti yang ia tuliskan pada bukunya General Theory (1936):

Ketika pengembangan modal suatu negara merupakan produk sampingan dari kegiatan kasino, upaya pengembangan tersebut kemungkinan besar akan dilakukan dengan buruk.

Keynes yang lebih tua, yang merupakan investor tersukses pada zamannya, tidak akan membeli Bitcoin dan sangat mungkin berkhotbah menentangnya.The Conversation

John Hawkins, Senior Lecturer, Canberra School of Politics, Economics and Society and NATSEM, University of Canberra dan Selwyn Cornish, Adjunct Associate Professor, Research School of Economics, Australian National University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Tinggalkan Balasan

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.

Continue Shopping