Krisis, Faktor Penyebab, Cara Mengatasi, dan Kesalahan Dalam Penanganan Krisis

  • 2 September 2020

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, tak dapat dipungkiri akhirnya perusahaan-perusahaan asing melirik kekayaan indonesia. Contohnya saja PT. Chevron, PT. RAPP dan masih banyak lagi, di sepanjang tahun 2018 penurunan nilai tukar dollar ke rupiah melonjak tinggi.

Rupiah sempat menyentuh angka Rp. 15.000,- per dollar AS. Hal ini lah yang membuat krisis keuangan terjadi.

Krisis juga terjadi ketika pesawat Lion Air jatuh di Solo pada tanggal 30 November 2004 dengan nomor penerbangan JT-538 tergelincir saat hendak mendarat di Bandar Udara (Bandara), Adisumarmo, Solo, Jawa Tengah.

Beberapa jam setelah kejadian, Public relations Lion Air tampil dibeberapa stasiun televisi untuk menyampaikan informasi awal seputar kejadian, baik itu penyebab kecelakaan, korban yang jatuh, pernyataan keprihatinan hingga masalah penanganan selanjutnya.

Inilah sebenarnya langkah awal yang dibutuhkan publik agar mendapatkan kecukupan informasi. Di mata publik ini merupakan langkah awal yang baik sebagai rasa tanggung jawab Lion Air.

Pesawat Lion Air pun kini mengalami hal yang sama seperti kejadian sekitar 14 tahun silam di Solo.Pesawat Lion Air dengan penerbangan JT-610 berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Pangkal Pinang mengalami kecelakaan setelah lepas landas pada hari Senin, 29 Oktober 2018 pukul 06.20 WIB. Setelah 13 menit mengudara pesawat jatuh di Perairan Karawang.

Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro menyampaikan informasi “Lion Air sangat prihatin dengan kejadian ini, pihak Lion Air akan bekerja sama dengan instansi terkait dan semua pihak yang sehubungan dengan kejadian ini”. Inilah merupakan langkah awal yang sangat dibutuhkan publik sebagai rasa tanggung jawab Lion Air.

Dari contoh-contoh krisis diatas. Nah, kali ini saya akan memberikan sedikit ilmu mengenai Krisis, Faktor Penyebab Krisis, Managemen Krisis, Mengatasi Krisis, dan Kesalahan Penanganan Krisis

1. Memahami krisis

Konflik di dalam organisasi dapat memicu krisis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), krisis adalah keadaan yang berbahaya.

Sementara itu, Robert P. Powell dalam bukunya yang berjudul Crisis: A Leadership Opportunity (2005), mengungkapkan bahwa krisis merupakan kejadian yang tidak diharapkan, berdampak drastis.

Kadang belum pernah terjadi sebelumnya yang mendorong organisasi kepada suatu kekacauan (chaos) dan dapat menghancurkan organisasi tersebut tanpa adanya tindakan nyata. Selain itu, krisis juga dipandang sebagai sebuah titik balik dalam sebuah organisasi.

Krisis selalu harus ditanggapi dengan cepat dan tepat didalamnya termuat program kerja yang terencana secara matang dan berpandangan kedepan. Program kerja, terutama, yang dibidangi oleh PR harus mampu secara visioner membuat perkiraan sebagai langkah antispasi krisis.

Nah jika memang terjadi krisis harus cepat diredam dan dengan cerdik mengubah suatu masalah menjadi modal kekuatan.

2. Faktor-faktor Penyebab Krisis

(1). Bencana alam. Contohnya gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang sering mewarnai kehidupan manusia. Celakanya, manusia sendiri tidak siap dalam menghadapi kemungkinan bencana. Setelah terjadi dan tidak dapat ditangani, benca alam memicu sebuah krisis.

(2). Kecelakaan Industry, Kebakaran hingga kecelakaan kerja wajib menjadi perhatian serius sebuah organisasi atau sebuah perusahaan. Jika tidak diantisipasi, berita buruk akan menjadi santapan lezat bagi media massa.

(3). Kualitas Produk, Cacat produk baik barang maupun jasa akan mengurangi penilaian konsumen. Kondisi tersebut berpengaruh secara langsung kepada citra dan reputasi. Menurunnya citra dan reputasi memangkas kekuatan finansial suatu organisasi.

(4). Persepsi Publik, Persepsi publik yang negatif, terutama ketika terjadi krisis sangat memengaruhi daya tahan organisasi. Misalnya, setelah ditemukan cacat produk, organisasi tidak segera melakukan perbaikan.

Kondisi tersebut berhasil direkam publik dan citra organisasi tercoreng. Kerugian dari sisi moral dan finansial jelas akan terjadi. Maka, krisis persepsi publik mulai lahir.

(5). Faktor Hubungan Kerja, hubungan kerja antara pekerja dan organisasi atau perusahaan harus terkendali. Kekuatan pekerja dapat memaksa industri untuk gulung tikar.

Akibatnya, organisasi terpaksa bertindak agresif. Hubungan kerja sudah selayaknya dijaga supaya tidak sampai pada level saling merusak.

(6). Kesalahan Strategi Bisnis, Perencanaan dan implementasi strategi bisnis yang keliru dapat membawa orgasnisasi menuju krisis. Krisis jenis ini biasanya tidak dapat diprediksi, ini dikarenakan pergeseran pasar yang mendadak tidak diantisipasi, gagal menyesuaikan diri dengan kebijakan pasar dan krisis global.

(7). Kriminalitas, Mulai dari terorisme, pembajakan, kekerasan, perjudian, pemalsuan hingga pencurian. Tingkat kriminalitas dapat memicu krisis-krisis apabila organisasi tidak dapat bertahan.

(8). Pergantian Manajemen. Pergantian pada jajaran manajemen, terutama orang-orang yang terpercaya, dan dapat diandalkan, dapat membuat organisais goyah. Organisasi harus sudah melakukan langkah persiapan sebelum melakukan regenerasi.

Advertisements
Loading...

(9). Persaingan Bisnis. Monopoli organisasi besar terhadap pasar menyulitkan banyak pihak untuk berinvestasi dan berkembang. Kerugian menjadi hal yang jamak dan daya tahan organisasi menjadi sangat teruji.

Jika gagal bertahan, krisis level financial akan merembet dengan cepat dan membunuh masa depan organisasi.

3. Managemen Krisis

Upaya organisasi untuk mengatasi krisis disebut sebagai managemen krisis (crisis management). Delvin (2007:1) mengatakan “crisis management is special measure taken to solve problems caused by a crisis.”

Istilah ‘solve’ pada definisi diatas dapat diartikan bahwa upaya mengatasi krisis pada dasarnya merupakan proses bertahap (step by step) dan melalui rangkaian aktivitas.

Pada tahap awal ini harus membatasi persoalan atau area krisi untuk meminimalkan efek kerusakan bagi organisasi. Tujuan dari managemen krisis adalah menghentikan dampak negatif dari suatu peristiwa melalui upaya persiapan dan penerapan bebarapa strategi dan taktik.

4. Mengatasi Krisis

Tidak jarang, krisis menjatuhkan indivividu atau organisasi dengan keras. Krisis memang menguji daya tahan dengan kekuatan. Meskipun sangat berat, bukan berarti krisis tidak dapat diatasi. Berikut beberapa cara meredam dan mengatasi krisis:

(1). Meramal. Sejak awal menetapkan kebijakan dan program kerja, organisasi dan divisi PR harus sudah melakukan pemetaan faktor hingga resiko dari sebuah krisis yang mungkin terjadi.

(2). Mencegah. Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Kalimat bijak tersebut juga berlaku untuk krisis. Organisasi yang baik adalah organisasi yang tanggap terhadap gejolak-gejolak yang dapat memicu masalah.

Divisi PR harus sudah memiliki rancangan dan cetak biru untuk “memadamkan benih api” sebelum berkembang menjadi “kebakaran”.

(3). Intervensi. Manajemen organisasi harus berani “turun tangan” untuk ikut berkerja keras mendukung krisis. Pengendalian keadaan akan menjadi langkah pertama dan usaha menangani krisis.

Jika gejolak terjadi ditengah karyawan, intervensi dari manajemen merupakan langkah yang dianjurkan. Namun, tentu harus selalu dalam koridor konsep PR yang ideal dan justru melahirkan krisis lanjutan.

5. Kesalahan Penanganan Krisis

 Tidak adanya audit yang ketat.
 Tidak membuat perencanaan sebelum krisis terjadi.
 Tidak membuat rencana krisis.
 Tidak melakukan simulasi situasi krisis.
 Komunikasi internal yang tidak efektif.
 Komunikasi eksternal yang tidak efektif.
 Menganggap dan memperlakukan media seperti lawan.
 Abai tehadap ancaman dan resiko yang dibawa krisis
 Enggan membangun komunikasi dengan publik.
 Kurang efektif ketika memaksimalkan pesan.
 Tidak membentuk sebuah tim khusus menangani krisis.
 Kurang memaksimalkan kekuatan website dan internet.
 Meremehkan potensi dan ancaman krisis
 Gagal membangun hubungan yang harmonis dgn staf dan konsumen.

Kesimpulan

Delvin (2007:1) mengatakan “crisis management is special measure taken to solve problems caused by a crisis.” Pada beberapa kasus, krisis terjadi justru diawali oleh konflik internal yang tidak segera ditangani. Masalah kian membesar dan konflik internal berkembang menjadi krisis.

Langkah-langkah antisipasi dan solusi harus sudah disiapkan sejak membuat program kerja. Manajemen, dibantu divisi PR adalah ujung tombak untuk antisipasi konflik dan krisis. Peta konflik dan krisis membantu organisasi merespons suatu masalah dan memadamkannya sebelum membakar banyak aspek.

Memetakan konflik dan krisis ketika merancang program kerja artinya menyiapkan diri sebaik mungkin. Manajemen krisis membantu organisasi keluar dari saat-saat yang berat dan menghindari berhentinya roda bisnis.

Sikap terbuka, jujur dan bertanggung jawab kepada publik internal dan eksternal harus dimiliki manajemen dan jajaran pimpinan. Siap mulai tersebut turut memengaruhi citra dan reputasi, terutama untuk menghadapi situasi pascakrisis.

Evaluasi merupakan langkah bijak dalam memandang krisis. Langkah ini menjadi cermin sekaligus bekal pengalaman menghadapi krisis di masa depan.

Jika organisasi abai terhadap evaluasi, dampak negatif krisis akan terus menggerogoti aspek finansial, moral dan sosial. Kepercayaan publik akan runtuh dan masa depan organisasi terancam.

Pada akhirnya, konflik dan krisis bukan akhir dunia, tetapi media belajar untuk menjadi organisasi yang professional dan mempunyai daya juang. Itulah sedikit ulasan mengenai Krisis, semoga blog ini bermanfaat dan menambah wawasan teman-teman semua.
—————————————–

Penulis: Nanda Rayhanah Nst

Sumber http: https://blog5prc.blogspot.com/2018/11/krisis-faktor-penyebab-krisis-managemen.

Advertisements
Loading...

Leave a Comment: