Mundurnya Jack Dorsey dari Twitter tidak menunjukkan masa depan meyakinkan untuk media sosial


Bukan Mark Zuckerberg.
EPA

Theo Tzanidis, University of the West of Scotland

Jack Dorsey mengumumkan secara mendadak mundur dari CEO Twitter di platform itu sendiri. Dorsey membeberkan surat pengunduran diri di media sosial yang ia ikut dirikan; cuitan itu mengingatkan saya pada cuitan-cuitan kontrovesial Elon Musk. Kita bisa bayangkan Dorsey duduk santai menikmati reaksi dan spekulasi yang kemudian muncul.

Ini bukan surat resign pertama Dorsey dari Twitter – ia dipaksa mundur dari jabatan CEO pada 2008, lalu kembali menjadi executive chairman tiga tahun kemauan. Surat ini belum tentu juga menjadi yang terakhir.

Menurut email yang dikirim kepada staf Twitter saat mengumumkan pengunduran dirinya, Dorsey mengatakan bahwa menurut dia, perusahaan itu harus “berdiri sendiri, bebas dari pengaruh atau arahan pendiri”.

Dalam keriuhan yang muncul setelah ia mengumumkan berita itu di Twitter, Dorsey menekankan bahwa itu keputusan dia sendiri. Lalu apa yang bisa kita simpulkan di sini?

Krisis paruh baya media sosial

Keputusan Dorsey bukannya tidak disangka. Sudah setahun lebih ia berada dalam tekanan besar dari investor untuk mempercepat pertumbuhan Twitter dan memperbaiki kinerja keuangannya.

Investor Wall Street telah mengkritik kiprah Dorsey di luar Twitter, termasuk aplikasi pembayaran raksasa Square, yang ia dirikan saat mundur dari Twitter sebelumnya, dan juga proyek-proyek futuristik terkait desentralisasi (menghilangkan kendali korporasi tradisional) di internet dan keuangan.

Saya melihat kesamaan antara Dorsey dan taipan digital lain seperti Jeff Bezos dan Musk. Seperti Dorsey, Bezos dan Musk menjalankan dua perusahaan, Amazon/Blue Origin dan Tesla/SpaceX, sekaligus mencari bentuk-bentuk kesenangan dan petualangan baru; Bezos berupaya mencapai orbit dan Musk melontarkan mobil sport Tesla Roadster ke luar angkasa.

Pada kasus Twitter, ada pula dimensi media sosial. Platform seperti Twitter, Facebook, dan YouTube kian dibebani kontroversi politis dan masalah rumit seperti disinformasi, pelanggaran privasi, dan ujaran kebencian.

Twitter, misalnya, menjadi saluran pribadi Donald Trump sebelum akhirnya melarang dia, dan saat ini bergelut dengan masalah ujaran kebencian sebagai isu global.

Situasi yang dihadapi para platform ini kadang disebut sebagai krisis paruh baya media sosial.

Cartoon of Donald Trump on a Twitter bird
Jangan melupakan sejarah.
Anton Khodakovskiy

Karena tidak ada solusi sederhana, maka masuk akal bila seseorang seperti Dorsey lebih senang menciptakan hal-hal baru ketimbang memperbaiki yang sudah ada. Mungkin lebih masuk akal untuk menyerahkan kendali kerajaan pada orang lain dan pergi mencari petualangan baru.

Dorsey menyebut “ego pendiri” dalam pesan perpisahan pada Twitter dan stafnya; ini tidak lain adalah sindiran pada Mark Zuckerberg, yang sama sekali tidak menunjukkan gelagat akan mundur dari Facebook/Meta. Sebaliknya, Zuckerberg ingin mengembangkan pengaruh perusahaannya lebih lanjut dengan meningkatkan operasinya pada versi realitas virtual internet yang dikenal sebagai metaverse atau 3Dweb.

Saat Facebook membuat pengumuman besar perubahan jenama menjadi Meta pada Oktober 2021, Dorsey mengeluarkan cuitan berisi ketidaksetujuannya pada keputusan Zuckerberg untuk tetap di Facebook. Dorsey mengatakan ia mencintai Twitter, tapi saya menduga ia memprediksi masa-masa sulit perusahaan media sosial dan bahkan konsep dasar platform-platform ini.

Menurut saya, sudah berakhir masa developer muda ingin berkarir di Google, Facebook, atau Twitter. Mereka kini lebih tertarik mencari untung lewat NFT dan membuat aplikasi untuk metaverse (non-Meta). Sementara itu, regulator semakin mengawasi nama-nama besar Silicon Valley atas standar etika mereka dalam konten dan data pengguna. Dan jika masa depan ada pada metaverse, maka seperti apa posisi Twitter sebagai platform microblogging dengan pengguna yang sempit di era 3Dweb.

Bab baru Jack

Setelah Dorsey menyerahkan kendali Twitter pada chief technology officer Parag Agrawal, ia akan memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada Square. Perusahaan layanan pembayaran ini bernilai 100 miliar dolar AS (Rp 1.400 triliun) – dua kali lipat Twitter – dan salah satu fokus utamanya adalah membuat mata uang kripto menjadi mainstream.

Square memiliki bitcoin dalam neraca keuangannya dan berencana meluncurkan pasar kripto terdesentralisasi bernama tbDEX, dan kemungkinan juga bergerak pada penambangan bitcoin (penciptaan bitcoin baru). Dorsey juga menjadi angel investor di berbagai proyek, termasuk aplikasi streaming musik Tidal; musisi Jay Z menjadi investor juga di situ.

Dalam banyak hal, lanskap mata uang kripto mewarisi sikap bebas dan santai platform media sosial pada awal kemunculannya. Start-up desentralisasi seperti platform keuangan Compound, pasar kripto Uniswap dan pembuat mata uang MakerDao kini mendapat untung besar dan semakin populer.

Perusahaan ini didominasi orang-orang jenius eksentrik seperti pencipta Uniswap Hayden Adams dan pendiri MakerDao Rune Christensen

Saya selalu mengatakan pada mahasiswa saya, kita sedang hidup pada era akselerasi: teknologi berkembang lebih cepat dari kemampuan individu untuk mengejarnya. Untuk bisa selamat, kita perlu cara berpikir baru tentang teknologi.

CEO-CEO Silicon Valley seperti Jack Dorsey adalah katalis untuk era ini, dan kini mereka pun harus beradaptasi dan merombak dunia yang mereka ciptakan. Dorsey memiliki keuntungan karena sudah satu langkah masuk di dunia yang baru beberapa waktu ini. Kepergian dia dari Twitter tidak membuat saya sangat optimis pada media sosial tradisional, tapi mungkin akan memberi dorongan tambahan pada start up kripto dan teknologi.The Conversation

Theo Tzanidis, Senior Lecturer in Digital Marketing, University of the West of Scotland

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Tinggalkan Balasan

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.

Continue Shopping