Persiapan Materi Menjadi Professional Public Speaker

  • 31 Agustus 2020

“Inti dari mahirnya public speaking adalah mencobanya terus-menerus”

Kalimat yang terucap dari Wahyu Muqsita pagi itu sontak mengevaluasi diri, “sudah sesering apa kamu mencoba berbicara di depan umum?”. Kata demi kata mengalir keluar lisan tanpa aturan. Kadang kala efeknya menghilangkan ingatan di kepala saat sedang di depan.

Tak peduli berapa banyak butiran kata yang terucap, belum indah jika bukan untaian. Untaian kata yang simpul bisa menambah kepercayaan diri. Tepuk tangan audien adalah saat yang dinanti-nanti. Tidak perlu sungkan saat ingin berharap tinggi dengan semua prestasi itu.

Karena dengan self mastery,audience mastery, content mastery, dan slide design yang bagus, maka semua ekspektasi public speaker akan menjadi nyata adanya.

Self Mastery

Self mastery adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri sendiri menjadi sosok public speaker yang baik. Kemampuan ini adalah hal pertama yang harus diperhatikan. Karena sejatinya, kepribadian akan membuat audien menjadi lebih nyaman dan bersahabat.

Acara yang berlangsung menjadi enak diikuti dan tak membosankan. Yang terpenting, energi positif mengiringi keberjalanan acara hingga selesai. Oleh karena itu, perhatikanlah 8 hal berikut.

Position

Posisi adalah peranan penting dalam estetika pemandangan. Berita informasi yang tertulis di sebuah kertas A4 tidak akan terbaca dengan baik jika kertasnya menghadap ke lantai, begitu juga jika posisinya menyampingi pembaca. Begitu lah analogi peranan posisi dalam sesi public speaking.

Gunakanlah sikap terbuka agar tidak menimbulkan kesan self-blockingdari perspektif audien. Bukankah dengan sikap terbuka membuat dunia ini menjadi lebih luas untuk diarungi? kecenderungan manusia adalah untuk bersosialisasi, maka bukalah “pintu gerbangnya” sebelum mereka memintanya.

Hati-hati dengan kecenderungan tubuh kita saat public speaking. Condong ke depan adalah satu-satunya sikap paling enak dilihat dibanding posisi lainnya. Bagaimana kita bisa nyaman berbicara dengan orang dalam posisi dibelakangi oleh lawan bicara.

Rasa angkuh dan kurang percaya diri menjadi corak bagi yang melakukannya. Medan presentasi yang luas janganlah disia-siakan. Terpaku di satu titik membuat kesan kekosongan pada medan presentasi. Jangan terpaku di satu tempat, perluaslah jangkauan beridiri, hampiri setiap insan yang hadir di depanmu.

Bukankah menyapanya dengan baik adalah imbalan yang cocok atas kesungguhannya untuk duduk mendengarkan? Namun tetaplah waspada pada pergerakanmu saat berjalan-jalan mengelilingi medan presentasi. Seringkali barang-barang di luar pengawasan kita membuat diri ini tersandung malu.

Kesalahan teknis bisa saja terjadi, kabel proyektor copot karena tersandung kaki yang buta arah melangkah. Mata kaki tidaklah dapat membantu kaki melangkah. Penglihatan yang awas lah yang memandunya menuju puncak gunung nan tinggi.

Gesture

Gerakan tubuh (gesture) adalah hal yang sepele, namun kehadirannya dapat mengganggu konsentrasi audien pada materi yang public speakeratau presenter sampaikan. Namun, gerakan tubuh yang kaku dan kurang bervariatif juga membuat bosan audien.

Bersikap natural adalah langkah awal dalam mengatur gerakan tubuh. Jangan sampai terlihat dibuat-buat, jangan pula terlalu kaku. Bagitu juga hidari gerakan yang berulang-ulang, biasanya audien suka menghitung perulangan tersebut, khususnya kata-kata. Acap kali gerakan berulang tersebut justru jadi bahan lelucon di antara audien pasca acara.

Selain gerakan tersebut, ada juga gerakan yang mengganggu, seperti mengupil, menguap, menggaruk-garuk kepala, mengorek-ngorek kuping, menggaruk-garuk bagian tubuh, dan lain sebagainya. Hindari ini sebisa mungkin, walalupun ini manusiawi, namun tidak untuk dinikmati oleh orang lain.

Gerakan lain yang paling kelihatan adalah ekspresi wajah. Terlalu datar akan membuat audien kurang menikmati presentasi. Ada sebuah prinsip yang sangat bagus, yakni “mirrorring”. Ekspresi lawan bicara dapat kita modifikasi dengan modifikasi ekspresi kita sendiri.

Jika ingin membuat audien berbinar-binar maka tunjukkanlah wajah penuh semangat dan keyakinan. Jika ingin membuat audien terharu, bawalah ekpresimu dengan penuh keikhlasan dan kesan penderitaan.

Voice

Suara adalah faktor selanjutnya yang harus diperhatikan. Dengannya, audien dapat menaruh perhatian di saat fokusnya berantakan. Begitu sebaliknya, justru ini dapat membuat audien menghilangkan fokusnya dari public speaker.

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah volume suara. Terlalu kecil dapat meresahkan telinga audien. Namun bukan berarti tidak boleh bersuara kecil, hal itu dapat dimainkan dalam intonasi pengucapan kata agar lebih menarik.

Perhatikan pula kecepatan biacaramu! Jangan membuatnya terlalu lambat sehingga audien mengantuk dan jangan terlalu cepat sehingga audien tidak memerhatikan. Buatlah penjedaan dalam setiap kalimat atau paragraf yang terucap.

Hal lain yang cukup penting dan membuat suara kita menjadi sempurna adalah pelafalan dan artikulasi. Latihan pelafan huruf per huruf seperti latihan danlap. Gunakan suara perut untuk mengatur volume dan pernapasan. Rasakan aliran udara yang mengalir melalui rangga mulut. Pastikan kadarnnya sudah sesuai sehingga orang yang mendengarkan mudah mencerna.

Eye Contact

Kontak mata memiliki peranan agar forum menjadi lebih hidup. Kontak mata memberikan kesan komunikasi dua arah secara personal. Ada konsep yang terdiri dari 3 langkah dalam kontak mata: see, lock, and leave.

Tatap mata satu orang, kunci pandangan dalam beberapa beberapa detik, lalu tinggalkan untuk pindah ke otang yang lain. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu cepat dalam menyapu kontak mata audien di presentasi.

Practice and Practice

Kunci dari andal adalah terbiasa. Akan lebih baik jika terus berlatih mengguanakan alat peraga yang akan dipakai di saat presentasi. Jangan lupa untuk survey lapangan, karena dengannya kamu bisa lebih percaya diri saat presentasi dan tidak demam panggung. Bahkan jika perlu kamu bisa sekalian mencoba presentasi dengan mic dan proyektor di tempat tersebut.

Advertisements
Loading...

Relax

Tegang saat presentasi dapat membuat hilang ingatan sesaat. Materi yang sudah dihafal menjadi lupa, langkah-langkah yang sudah diturunkan saat latihan mendadak blank not responding. Maka buatlah diri sesantai mungkin saat akan presentasi dan tetap serius! Keep Smile 🙂

Visualize

Tips selanjutnya adalah coba visualisasikan di otakmu bahwa dirimu sedang memberikan presentasi. Bayangkan suaramu yang keras menggemakan ruangan. Bayangkan pula tepuk tangan dari audien saat kamu presentasi. Hal tersebut dapat membuatmu lebih percaya diri.

Realize

Yang terakhir adalah lakukan apa yang sudah kamu rencakan tadi. Larangan-larangan segera ditinggalkan. Anjuran-anjuran silakan dilakukan. Semoga presentasimu menjadi presentasi terindah dalam hidupmu sehingga membuat namamu harum di depan orang banyak.

Audience Mastery

Selanjutnya, bagaimana cara menguasai audien? Mari sama-sama perhatikan.

Who are your listeners?

Perhartikan usia lawan bicara. Pengguanaan bahasa harus menyesuaikan usia. Sopan pada yang lebih tua, santai dengan yang lebih muda. Perhatikan pula gender lawan bicara. Presenter harus dapat momosisikan dirinya di atas audiens jika audiensnya laki-laki. Karena laki-laki menjunjung tinggi harga diri. Untuk perempuan, tidak terlalu bermasalah.

Ketahui tingkat pendidikan lawan bicara. Jangan menggunakan bahasa integral lipat ganda dengan orang setingkat satpam atau masyarakat awam lainnya.

Kenali pula latar belakang budayanya. Jangan sampai melakukan kesalahan yang tidak boleh dilakukan pada budaya lawan bicara. Terakhir, munculkan juga rasa tertarikmu saat berbicara dengan lawan bicara, coba berkenalan dengan audien dan sapa secara personal.

Audience analysis

Saat presentasi sedang berjalan, lakukan analisi terhadap audien agar kamu dapat mengambil perlakuan yang tepat. Analisis ekspresi wajahmereka. Jika sudah menunjukkan ekspresi yang sedang bosan, segera putar otak untuk mencairkan suasana, bisa dengan games dan lain-lain.

Selanjutnya analisis pula bahasa tubuh. Hentakan kaki ke lantai secara terus-menerus menunjukkan rasa bosan, tangan yang blocking juga harus diwaspasai. Pokoknya harus peka. Begitu pula dengan respon secara terang-terangan dari mereka.

Handling the audiences

Libatkan si “clown” dalam sesi pembicaraan. The clown adalah orang yang aktif dan agresif dalam forum. Orang yang cukup menghibur ini dapat dimanfaatkan agar forum lebih hidup.

Perhatikan pula si “sniper”, orang yang mengeluarkan pendapat-pendapatnya secara terus-menerus tidak terkendali. Jangan takut dengannya, buat dirimu welcome, dam jangan baper. Tetap yakin kita yang lebih berkuasa dalam forum tersebut.

Jangan berasumsi bahwa “snowman” tidak berantusias. Barangkali ada masalah yang mengganggunya, maka tanyakan saja. Tetap sabar pada “black cloud”, tunjukkan bahwa anda berbeda dengan yang lainnya. Tetap ajak “unwanted panelist” dalam diskusi, namun beri giliran kepada audien yang lain agar tidak dia-dia terus.

Handling a difficult question

Jika berhadapan dengan pertanyaan yang sulit, coba kuasai materi dan pahami pertanyaannya terlebih dahulu. Jangan lupa ucapkan terimakasih kepada penanya. Tetap senang dan bersikap positif di depan panggung.

Jika benar-benar mentok, coba kembalikan pertanyaan ke audien untuk membantu menjawab. Jika tidak ada sama sekali yang berpendapat, jangan sungkan untuk mengatakan “aku tidak tahu”.

Content Mastery

Pilihlah subjek yang kamu suka untuk dibawakan. Ketahui banyak soal subjek materi tersebut agar dapat menguasainya. Lalu libatkan topik tersebut dalam pembicaraan sehari-hari. Gunakan humor agar lebih menarik, tambahkan cerita pengalaman agar audien lebih menaruh perhatian, dan guanakan bahasa sehari-hari agar lebih sederhana.

Slide Design

Perindah tampilan slide power point. Teks yang ditampilkan jangan kepanjangan. Menggunakan gambar lebih mudah dicerna daripada tulisan. Pastikan font bisa dibaca dengan jelas, J4nG4n 4l4y! Gunakan percampuran warna yang indah dilihat. bila perlu tambahkan animasi dan vidio.

Buat materi yang mudah dimengerti. Manfaatkan teknik extended screen pada layar monitormu. Jangan lupa cantumkan sumber referensi. Fokus pada materi, bukan media. Yang paling penting adalah pengalaman.

—————————————————-

Oleh: Muhammad Iqbal

Sumber: https://medium.com/@muhmiqbal/tips-trik-public-speaking-aae655b25f2f

Advertisements
Loading...

Leave a Comment: