Riset menemukan mental mentah wirausahawan milenial di Indonesia


Photo by fauxels from Pexels

Basuki, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari ; Ismi Rajiani, Universitas Lambung Mangkurat, dan Rahmi Widyanti, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Pada tahun 2019, Indonesia mencatatkan dirinya sebagai negara dengan startups atau perusahaan rintisan terbanyak kelima di dunia. Akan tetapi , ketika dibandingkan dengan total populasi, jumlah wirausahawan Indonesia hanya berkisar di angka 3% dari keseluruhan jumlah penduduk.

Angka ini jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura (7%) dan Malaysia (5%). Sementara, untuk bisa berkembang menjadi ekonomi maju, Indonesia harus meningkatkan rasio wirausahawannya minimal 4% dari populasi.

Salah satu yang bisa dilakukan pemerintah untuk menambah populasi wirausahawan di Indonesia adalah dengan mencari wirausahawan muda. Kehadiran wirausahawan muda baik milenial maupun Generation Z, yang secara keseluruhan mewakili 60% dari populasi Indonesia, diperlukan karena kepiawaian mereka dalam pemanfaatan teknologi, serta untuk regenerasi bisnis dalam upaya membuka lapangan kerja baru ke depannya.

Namun, studi kami menunjukkan bahwa wirausahawan Indonesia masih memiliki kepercayaan diri yang rendah pada kemampuan sendiri (efikasi diri rendah) yang membuat mereka sulit menjalani keputusan bisnis.

Mental mentah milenial Indonesia dalam berwirausaha

Studi dilakukan lewat analisis kuantitatif terhadap lebih dari 500 wirausahawan pemula yang berdomisili di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Dengan fokus di Kalimantan, kami yakin bahwa riset ini mewakili kultur luar Jawa (selain Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta), yang menurut antropolog Clifford Geertz, mewakili 70% budaya Indonesia.

Sikap individualis untuk menentukan nasibnya sendiri menjadi preferensi dalam karakter kewirausahaan.

Sayangnya, Indonesia terdiri dari masyarakat yang kolektif dan ikatan sosial dapat memengaruhi keputusan seseorang. Bisnis diatur dalam nuansa patrimonialisme yang melahirkan nilai paternalisme atau penekanan terhadap superioritas, ketergantungan, favoritisme, hingga patronasi atau bentuk dukungan yang bisa saja datang dari privilese.

Oleh karena itu, milenial Indonesia cenderung menghindari perilaku berisiko, menjauhi ketidakpastian, menekankan pada harmoni untuk menjaga relasi antar individu, dan tidak terbuka pada hal-hal baru.

Kecenderungan untuk bermain aman ini menjadi batu ganjalan bagi generasi milenial Indonesia untuk menjadi pengusaha.

Hasil studi kami juga menunjukkan bagaimana interpretasi terhadap nilai-nilai keislaman sebagai agama mayoritas di Indonesia, memegang pengaruh terhadap persistensi milenial untuk berusaha. Filosofi terhadap takdir dan kekuatan gaib yang menentukan nasib individu divalidasi secara luas.

Artinya di sini, lokus kendali eksternal lebih bermain daripada internal. Sikap gigih dan introspektif dari individu yang menekankan kendali atas kehidupan mereka sendiri jarang ditemukan pada milenial di Indonesia yang cenderung pasrah ketika menghadapi kesulitan.

Selain itu, inovasi dan toleransi terhadap kesalahan turut menjadi kunci semangat berwirausaha. Akan tetapi, milenial Indonesia cenderung memiliki kekurangan dalam inovasi bisnis akibat kultur paternalisme. Selain itu, perasaan malu ketika dihadapkan pada kegagalan juga membuat mereka cenderung menghindari inovasi.

Ketergantungan terhadap atasan membuat generasi milenial berupaya untuk menyenangkan bosnya, demi menjaga posisi ekonomi sosial mereka. Kecenderungan ini kerap disebut dengan istilah “asal bapak senang”, dan bertabrakan dengan unsur kemandirian yang merupakan aspek penting dari kewirausahaan.

Ringkasnya, walaupun responden milenial kami merupakan pebisnis pemula, kewirausahaan tidak berakar dari hati dan pikiran mereka.

Sebagai pengusaha baru, mereka cenderung mengejar peluang untuk memperkenalkan produk baru, mengeksploitasi pasar baru, atau mengembangkan metode produksi yang lebih efisien. Namun, hingga usaha mereka terbukti berhasil, apa yang mereka lakukan hanyalah sekadar ide usaha semata. Dengan kata lain, pilihan yang mereka ikuti masih bersifat persepsi dan didorong oleh keyakinan pribadi mengenai kemungkinan berbisnis.

Temuan kami mengungkapkan rendahnya kepercayaan diri para responden kami. Padahal, kepercayaan diri dapat mempengaruhi kognisi, arah tindakan, dan persepsi akan kontrol yang menjadi unsur penting dalam meraih kesuksesan.

Apa yang bisa dilakukan?

Para pengusaha milenal pemula Indonesia masih secara naif mengejar peluang yang tidak pasti dan kerap berujung pada tidak beroperasinya bisnis yang dikembangkan.

Dengan keyakinan yang cukup tentang manfaat dari peluang yang dikejar, pengusaha milenial dapat merasa terdorong untuk mempertahankan usaha mereka dan membuahkan hasil. Sebaliknya, rekan-rekan mereka yang sama-sama terampil, namun kehilangan kepercayaan pada peluang yang ada, pada akhirnya menelantarkan bisnis yang mereka mulai.

Pembinaan wirausaha milenial untuk mendongkrak perekonomian semakin genting dalam kondisi resesi ekonomi di masa pandemi COVID-19. Oleh karena itu, pemerintah dapat menggunakan krisis sebagai kesempatan untuk memulai bisnis baru.

Namun, calon wirausahawan harus termotivasi untuk menangani masalah dengan membentuk lokus kendali internal dan tidak membiarkan motif eksternal mendikte tindakan mereka. Selain itu, penghargaan untuk bisnis pada saat pemulihan harus didukung oleh motivasi moneter dan keamanan.

Banyak sekali pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah untuk mengembangkan mental usaha wirausahawan muda. Salah satunya ada dengan
menyelidiki hubungan empiris antara kepribadian, nilai budaya, dan karakteristik kewirausahaan serta perilaku kewirausahaan yang dijalankan oleh generasi milenial di Indonesia.The Conversation

Basuki, Associate Professor, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari ; Ismi Rajiani, Visiting Assistant Professor, Universitas Lambung Mangkurat, dan Rahmi Widyanti, Associate Professor, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Tinggalkan Balasan

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.

Continue Shopping