Beberapa Tips Menjadi Pemimpin Visioner

Beberapa Tips Menjadi Pemimpin Visioner

Pemimpin memang sosok yang selalu menjadi sorotan banyak orang. Kedudukan dan citranya akan berasosiasi dengan sikap bawahannya. Jika pemimpin memiliki citra yang baik maka bawahannya pun cenderung akan mengikutinya. Maka tak mengherankan jika para pemimpin ini memang akan dituntut untuk selalu menampilkan kepribadian yang baik. Salah satu sikap dan kepribadian baik dan mumpuni yang bisa dijadikan acuan dari seorang pemimpin adalah pandangan yang maju ke depan (visioner).

Sebagai pemimpin yang mengepalai sebuah organisasi, lembaga atau bisnis mereka memang harus memiliki sebuah pandangan visioner yang jauh ke depan. Dengan adanya pandangan dari seorang pemimpin visioner ini maka ia akan mampu membuat dan menjadikan organisasi atau binsis mereka menjadi lebih baik dimasa yang akan datang. Lalu bagaimanakan cara untuk bisa menjadi pemimpin visioner? Berikut beberapa tips yang bisa diterapkannya.

1. Pimpinan Visioner Lihai Menganalisis Tren
Tips pertama untuk menjadi pemimpin visioner adalah dengan selalu belajar menganalisis tren. Pasar atau lingkungan memang akan memiliki tren (kecenderungan pada sebuah hal) yang umumnya akan berubah-ubah seiring waktu. Mengapa pemimpin harus mengikuti tren? Karena dengan mengikuti tren, pemimpin akan mampu untuk memperoleh banyak konsumen atau dukungan dari publik.

Nah jika Anda ingin menjadi pemimpin yang visioner maka Anda mau tak mau harus mulai bisa belajar menganalisis tren. Caranya Anda harus terjun ke lapangan dan melakukan pengamatan dan observasi atau riset. Selain menganalisis pasar, Anda juga perlu melakukan kajian pada industri atau perusahaan lain.

Saat Anda sudah sering melakukan riset pasar ini maka intuisi Anda akan semakin terlatih dan cepat untuk bisa melihat tren dan peluang pasar. Pendekatan lain selain riset pasar untuk bisa menemukan tren pasar yaitu dengan mencari pengalaman baru. Caranya Anda bisa datang ke acara seminar di luar kompetensi yang kamu miliki. Dengan adanya pengalaman baru ini Anda akan mampu mengeksplorasi peluang baru dan juga mengindentifikasi pola tren atau bahkan menciptakan tren itu sendiri.

2. Memperhatikan Hal Detail Setiap Hari
Pandangan yang visioner dari seorang pemimpin juga bisa dilatih dengan cara selalu mengamati hal-hal yang detail setiap harinya. Memang tak jarang banyak orang yang selalu melupakan hal-hal detail dari kehidupannya setiap hari. Inilah yang kemudian membuat intuisi mereka pada masa depan menjadi terdegradasi. Maka jika Anda ingin menjadi pemimpin yang visioner Anda harus bisa memperhatikan hal-hal detail dalam kehidupan sehari-hari Anda.

3. Perencanaan Mendalam Ketika Meraih Peluang
Setelah mendapatkan ide dan pandangan pada masa depan atas peluang yang ada, pemimpin visioner perlu membuat perencanaan mendalam. Mengapa tidak langsung lakukan eksekusi saja? Bukankah lebih baik langsung praktek tanpa harus banyak rencana? Pada beberapa hal memang bisa berlaku, namun untuk hal yang satu ini pemimpin memang harus melakukan perencanaan terlebih dahulu agar semua ide dan peluang yang didapat bisa tercapai di masa depan.

4. Jangan Menunggu Sampai Sempurna
Setelah menemukan ide dan membuat perencanaan, maka saatnya melakukan eksekusi. Segera eksekusi ide itu dan luncurkan ke publik. Jangan menunggu sampai ide atau produk Anda menjadi sempurna. Hal ini karena ide dan produk akan bisa Anda sempurnakan seiring waktu. Lihat saja bagaimana evolusi iPhone yang terus mengalami penyempurnaan dari iPhone 1 hingga iPhone 6 yang sekarang ini. Contoh dari produk lain juga sudah banyak yang terjadi demikian seperti iPhone.

5. Berbagi Visi dengan Orang Lain
Terakhir, tips untuk menjadi pemimpin visioner adalah dengan berbagi visi dengan orang lain. Jika Anda menemukan ide yang brilian, Jangan hanya berfikir subjektif atau berkeyakinan pada asumsi diri sendiri. Lebih dari itu Anda harus bisa membagi visi dari ide tersebut kepada publik. Dukungan aktif dari orang lain memang Anda butuhkan untuk membuat visi dan ide Anda lebih cepat terlaksana.

Jangan membuat kesalahan dengan mengerjakan ide brilian sendirian. Mengapa? Karena banyak kasus di mana pemimpin mengalami kegagalan karena memaksakan ide mereka dan juga mengasumsikan bahwa idenya sudah pasti akan diterima orang lain.
___________________________________________________________________________

Inilah Beberapa Tips Menjadi Seorang Pemimpin Visioner

4 Tahapan Dalam Proses Public Relations (Humas)

4 Tahapan Dalam Proses Public Relations (Humas)

Public Relations (PR) bukanlah kegiatan yang sembarangan, justru kegiatan ini membutuhkan perencanaan yang berkelanjutan untuk menguntungkan pertumbuhan perusahaan. Hal ini didasari oleh keyakinan bahwa kehidupan perusahaan akan bergantung pada opini publik. Oleh karena itu, kegiatan PR harus dilakukan untuk membentuk respon positif dari opini publik tersebut.

PR adalah seni dan ilmu dalam menganalisis suatu isu, memprediksi konsekuensi, mengorganisasi permasalahan, dan mengimplementasikan program rencana untuk melayani organisasi dan publik.

Hubungan PR merupakan hubungan dua arah. Di satu sisi, fungsinya adalah untuk menafsirkan sebuah organisasi untuk masyarakat. Sementara di sisi lainnya, kegiatan PR mampu melahirkan informasi mengenai apa yang diharapkan oleh publik.

Untuk melaksanakan kegiatan PR dengan baik, maka diperlukan proses. Mengingat, kegiatan PR tidak hanya mementingkan hasil akhir, namun juga cara yang ditempuh untuk memperoleh hasil akhir tersebut.

Dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan yang ada dalam lingkungan, seorang praktisi PR harus memiliki tahap-tahap dalam melakukan kegiatannya. Menurut Cutlip dan Center, ada empat proses public relations. Proses tersebut bersifat dinamis, sehingga setiap unsur yang ada pun berkesinambungan. Keempat proses tersebut adalah:

1. Research (penelitian)
Seorang praktisi PR harus mengenal gejala dan penyebab permasalahan. Oleh sebab itu, praktisi PR perlu melibatkan dirinya dalam penelitian dalam pengumpulan fakta. Ia perlu memantau dan membaca tentang pengertian, opini, sikap, dan perilaku orang-orang yang berkepentingan dan terpengaruhi oleh tindakan perusahaan. “What’s happening now?” merupakan kata-kata yang menjelaskan tahap ini.

Seorang praktisi PR harus jeli dalam melihat data dan fakta yang erat sangkut pautnya dengan pekerjaan yang akan digarap. Segala keterangan harus diperoleh selengkap mungkin. Dalam tahap mendefinisikan penilitian, seorang praktisi PR harus meng-olah data faktual yang telah ada, mengadakan perbandingan, melakukan pertimbangan, dan menghasilkan penilaian, sehingga dapat diperoleh kesimpulan dan ketelitian dari data faktual yang telah didapat.

Proses PR tidak sesederhana pengumpulan data dan fakta, namun juga harus mengedepankan pengolahan, penelitian, pengklasifikasian, dan penyusun-an data sedemikian rupa sehingga memudahkan pemecahan masalah nantinya. Penelitian dalam pencarian data ini dapat dilakukan dengan cara-cara: survei dan poling, wawancara, focus group discussion, wawancara mendalam, dan walking around research.

2. Planning (perencanaan)
Setelah tahap penelitian dan pencarian data, praktisi PR melanjutkan ke tahap perencanaan. Dalam tahap ini, praktisi PR melakukan penyusunan masalah. Ia melakukan pemikiran untuk mengatasi masalah dan menentukan orang-orang yang akan menggarap masalah nantinya. Perencanaan ini tidak boleh diabaikan, namun harus dipikirkan secara matang karena turut menentukan suksesnya pekerjaan PR secara keseluruhan.

Perencanaan disusun atas data dan fakta yang telah diperoleh, bukan berdasarkan keinginan PR. Berdasarkan pada rumusan masalah, dibuat strategi perencanaan dan pengambilan keputusan untuk membuat program kerja berdasarkan kebijakan lembaga yang juga disesuaikan dengan kepentingan publik. Kata kunci dari tahap ini adalah, “What should we do and why?”

3. Action and Communication (aksi dan komunikasi)
Komunikasi sering kali dilakukan berdasarkan asumsi pribadi oleh seorang praktisi PR. Akibatnya, tindakan tersebut terkadang membawa hasil yang buruk dan tidak disarankan karena akan berisiko pada citra perusahaan. Tahap ini dilewati untuk mendapatkan jawaban pertanyaan, “How do we do it and say it”.

Tujuan dan objektivitas yang spesifik harus dikaitkan untuk mencapai aksi dan komunikasi yang akan dilakukan oleh praktisi PR. Ia harus mampu mengkomunikasikan pelak pelaksanaan program sehingga dapat mempengaruhi sikap publiknya yang kemudian mendorong mereka untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.

Selain itu, ia juga harus melakukan aksi dan melakukan kegiatan PR sebaik-baiknya. Kegiatan aksi ini merupakan kegiatan komunikasi, selayaknya komunikasi kelompok, komunikasi massa, dan komunikasi organisasional.

4. Evaluation (evaluasi)
Cara untuk mengetahui apakah prosesnya sudah selesai atau belum adalah dengan mengadakan evaluasi atas langkah-langkah yang telah diambil.

Tujuan utama dari evaluasi adalah untuk mengukur keefektifan proses secara keseluruhan. Pada tahap ini, ia pun dituntut untuk teliti dan seksama demi keakuratan data dan fakta yang telah ada.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa nama tengah seorang praktisi PR adalah ‘krisis’. Oleh karena itu, setelah selesai satu permasalahan, tidak menutup kemungkinan untuk menghadapi masalah baru lagi. Dengan demikian, tahap ini juga sebagai acuan perencanaan di masa mendatang. Singkat kata, “How did we do?” menjadi acuan dalam tahap ini.
_____________________________________________________
http://catatankomunikasi.blogspot.co.id/2013/07/4-tahapan-dalam-proses-public-relations.html

Pemahaman dan Pengertian Strategic Planning, sebuah Definisi bagi Organisasi

Pemahaman dan Pengertian Strategic Planning, sebuah Definisi bagi Organisasi

Pengertian yang Cukup Sederhana, bahwa Strategic Planning (Perencanaan Strategis) adalah Hal yang menentukan Bagaimana sebuah Organisasi akan melalui tahun-tahun ke depan, Bagaimana mencapai tujuannya dan Bagaimana mengetahui cara mencapai tujuan. Fokus Strategic Planning selalu meliputi keseluruhan Organisasi sedangkan sebuah Business Plan berfokus pada beberapa Bagian Produk, Pelayanan atau Program. Banyak Variasi Perspektif dan Model Pendekatan dalam sebuah Strategic Planning. Itulah mengapa Pemahaman dan Pengertian Strategic Planning akan bergantung pada Budaya Perusahaan, Kepemimpinan, Kompleksitas dan Lingkungan Organisasi.

Pemahaman dan Pengertian Strategic Planning

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa Strategic Planning memiliki beberapa Perspektif dan Pendekatan serta Model yang dapat dipergunakan. Beberapa variasi dari Strategic Planning Model termasuk Dasar Tujuan, Dasar Isu, Skenario Organik dan lainnya.

1) Perencanaan Dasar Tujuan adalah yang paling umum dilakukan dan mengacu pada Misi Organisasi (Visi dan Nilai), Tujuan Kerja yang mencapai Misi, Strategi untuk mencapai Tujuan dan Perencanaan Tujuan (Apa yang akan dilakukan, Siapa yang melakukan dan Kapan melakukannya).

2) Perencanaan Strategis berdasarkan Isu yang selalu dimulai dengan menguji isu yang tengah dihadapi Organisasi, Strategi yang menyesuaikan dengan Isu dan Rencana Aksi.

3) Perencanaan Strategis Organik adalah hasil pengejawantahan Visi dan Nilai Perusahaan. Rencana Aksi yang mengikuti Nilai. Beberapa Perencanaan melakukan pendekatan yang seperti Penyelidikan atau Apresiatif.

Perencanaan Strategis dapat dibuat untuk jangka waktu satu tahun, tiga atau lima tahun ke depan. Terkadang sebuah Strategic Planning hanya mencakup Informasi Penting tanpa Action Plan (Rencana Aksi). Banyak diantara Pemilik Perusahaan dan para Pengambil Keputusan sudah mengetahui tentang “apa” yang akan harus masuk dalam Sebuah Rencana Strategis, namun terkadang Pengembangan Rencana Strategis (Strategic Planning Development) jauh lebih Penting untuk Memperjelas dan Mempertegas Rencana Besar Organisasi Perusahaan dan Memastikan semua “Pemimpin Kunci” memiliki Pandangan yang sama akan Rencana Strategis tersebut.

Hal lain yang sangat penting daripada sekedar Dokumentasi Rencana Strategis adalah Proses Perencanaan Strategis itu sendiri.

Ukuran Organisasi, Perbedaan Organisasi dalam Pelaksanaan Kegiatan cenderung hanya sebagai Sifat dan Perilaku dari masing-masing Individu Organisasi (Profit atau Non-Profit). Seperti misal ada orang yang lebih suka dengan Strategi Top-Down, Strategi Umum-Spesifik namun ada pula orang yang suka dengan Pendekatan Organik yang berbeda satu dan lainnya, akrena sifat Artistik dan Reflektif terhadap Kondisi.

Strategic Planning atau Perencanaan Strategis pada dasarnya harus mengacu pada Visi dan Misi Organisasi Perusahaan secara Global, dan dituangkan dalam setiap Action Plan(Rencana Aksi) yang bersifat Unik dan Spesifik sesuai Karakter dan Perilaku Organisasi dan Individu yang terlibat. Perencanaan Strategis merupakan sebuah Proses yang akan dilalui setahap demi setahap mencapai Tujuan atau Goals Organisasi secara Periodik satu tahun, atau lebih. Pemahaman dan Pengertian Strategic Planning, merupakan sebuah Definisi Besar bagi Organisasi.
_______________________________

Pemahaman dan Pengertian Strategic Planning, sebuah Definisi bagi Organisasi

Definisi Humas/Public Relations

Definisi Humas/Public Relations

Hubungan masyarakat atau Public Relations adalah suatu usaha yang sengaja dilakukan, direncanakan secara berkesinambungan untuk menciptakan saling pengertian antara sebuah lembaga/institusi dengan masyarakat. Humas (PR) adalah sebuah seni sekaligus ilmu sosial dalam menganalisa kecenderungan, meramalkan konsekuensinya, memberikan pengarahan kepada pimpinan institusi/lembaga dan melaksanakan program-program terencana yang dapat memenuhi kepentingan baik institusi maupun lembaga tersebut maupun masyarakat yang terkait.

Public Relations (PR) merupakan fungsi manajemen untuk mencapai target tertentu yang sebelumnya harus mempunyai program kerja yang jelas dan rinci, mencari fakta, merencanakan, mengkomunikasikan, hingga mengevaluasi hasil-hasil apa yang telah dicapainya.

“Public Relations is planned, persuasive communication designed to influence significant public” (John E. marston “MODERN PUBLIC RELATIONS”, 1979).

Secara spesifik, definisi umum PR disimpulkan sebagai seni (arts) dan gabungan dari disiplin ilmu manajemen, komunikasi, psikologi, sosial dan marketing, untuk membentuk agar perusahaan atau lembaga, nama dan produknya menjadi disukai dan dapat dipercaya oleh publiknya. Dalam hubungannya dengan target audience atau stakeholder (obyek dakwah) tersebut, dikenal tiga tipe tentang apa yang disukai dan tidak disukai, yaitu sbb :

a. Those who know you and like you (mengenal dan menyukai Anda).
b. Those who know you and don’t like you (mengenal dan tidak menyukai Anda).
c. Those who neither you nor care you (tidak dikenal maka tidak disukai).

Oleh karena itu dikatakan, “Public Relations merupakan fungsi manajemen yang menilai sikap publik, mengidentifikasikan kebijaksanaan dan tata cara seseorang atau organisasi demi kepentingan publik, serta merencanakan dan melakukan suatu program kegiatan untuk meraih pengertian, pemahaman, dan dukungan dari publiknya” (Scott M. Cutlip dan Allen H. Center ” Efektif Public Relations”, 1982).

Public Relations adalah suatu proses yang kontinyu dari usaha manajemen untuk memperoleh good will dan pengertian dari publik pada umumnya, termasuk stake holder internal (pengurus Rohis). Ke dalam, mengadakan perbaikan dan pembenahan melalui corporate culture building (membangun budaya lembaga) berbentuk disiplin, motivasi, peningkatan pelayanan dan produktivitas kerja yang diharapkan untuk terciptanya sense of belonging terhadap lembaga. Sedangkan ke luar, berupaya menciptakan kepercayaan dan citra lembaga (corporate image) yang sekaligus memayungi dan mempertahankan citra produknya (product image).

Pada hakekatnya makna dari “hubungan masyarakat” (humas, kehumasan, public relations) adalah prilaku atau sikap untuk menjadi tetangga dan warga yang baik (to be a good neighbour and citizen). [nit]
________________________________________________

http://bahumasartikel.blogspot.co.id/2008/01/definisi-humaspr.html