Komunikasi Krisis dalam Kajian Public Relations serta Strategi Manajemen Krisis

Dalam kajian Public Relations, komunikasi krisis merupakan bagian tindakan Public Relations yang terukur untuk menanggapi sebuah situasi krisis yang dapat menghancurkan reputasi sebuah perusahaan atau disebut Public Relations Krisis (crisis public relations).

Istilah ini (crisis public relations) pertama kali digunakan Edward Bernays dalam menanggapi tuduhan kepada Standard Oil. (Biagi, 2010: 295). Salah satunya model strategi manajemen krisis dari Rhenald Kasali (1995 : 225-230), yang mengadaptasi model anatomi krisis Steven Fink, sebagai berikut:

1. Tahap Prodomal

Tahap prodomal sering disebut pula warning stage karena ia memberi sirine tanda bahaya mengenai sintomsintom yang harus segera diatasi. Mengacu pada definisi krisis, tahap ini juga merupakan bagian dari turning point bila manajemen gagal mengartikan atau menangkap signal ini, krisis akan bergeser ke tahap yang lebih serius: tahap akut.

Sering pula tahap prodomal sebagai tahap sebelum krisis atau precrisis. Tetapi sebutan ini hanya dapat dipakai untuk melihat krisis secara keseluruhan dan disebut demikian setelah krisis memasuki tahap akut sebagai retrospeksi.

2. Tahap Akut

Inilah tahap ketika orang mengatakan : “telah terjadi krisis”. Meski bukan disini awal mulanya krisis, orang menganggap suatu krisis dimulai dari sini karena gejala yang samar-samar atau sama sekali tidak jelas itu mulai kelihatan jelas.

Dalam banyak hal, krisis yang akut sering disebut sebagai the point of no return. Artinya, sekali signal-signal yang muncul pada tahap peringatan atau prodomal stage tidak digubris, ia akan masuk ke tahap akut dan tidak bisa kembali lagi. Kerusakan sudah mulai bermunculan, reaksi mulai berdatangan, dan isu menyebar luas.

Namun, beberapa kerugian lain yang akan muncul amat bergantung dari aktor yang mengendalikan krisis. Salah satu kesulitan besar dalam menghadapi krisis pada tahap akut sekalipun sangat siap adalah intensitas dan kecepatan serangan yang datang dari berbagai pihak yang menyertai tahap ini.

Kecepatan ditentukan oleh jenis krisis yang menimpa perusahaan, sedangkan intensitas ditentukan oleh kompleksnya permasalahan. Tahap akut adalah tahap antara, yang paling pendek waktunya bila dibandingkan dengan tahap lainnya. Bila ia lewat, maka umumnya akan segera memasuki tahap kronis.

Advertisements

3. Tahap Kronik

Tahap ini sering juga disebut sebagai the clean of phase atau the post mortem. Sering pula tahap ini disebut sebagai tahap recovery atau self analysis. Di dalam perusahaan, tahap ini ditandai dengan perubahan struktural baik penggantian manajemen, penggantian pemilik, memasukkan nama-nama baru sebagai pemilik atau dilikuidasi.

Crisis manager harus mampu memperpendek tahap ini karena semua orang sudah merasa letih, juga pers sudah mulai bosan memberitakan kasus ini. Namun, yang paling penting adalah perusahaan harus memutuskan mau hidup terus atau tidak. Kalau ingin hidup terus tentunya ia harus sehat dan mempunyai reputasi yang baik.

Tahap kronik adalah tahap yang terenyuh. Kadang-kadang dengan bantuan konsultan krisis yang handal, perusahaan akan memasuki keadaan yang lebih baik, sehingga pujian berdatangan dan penyembuhan atau resolution mulai berlangsung.

4. Tahap Resolusi atau (Penyembuhan)

Tahap ini adalah tahap penyembuhan atau pulih kembali dan tahap terakhir dari empat tahap krisis. Meski bencana besar dianggap sudah berlalu, crisis manager tetap perlu berhati-hati,
karena riset dalam kasus-kasus krisis menunjukkan bahwa krisis tidak akan berhenti begitu saja pada tahap ini.

Krisis umumnya berbentuk siklus yang akan membawa kembali keadaan semula atau prodomal stage.

——————————————

Penulis: Anisa

Sumber http: https://blog5prc.blogspot.com/2018/11/sistem-mengelola-dan-strategi.html

Tinggalkan Balasan

Shopping cart

0

No products in the cart.